UPACARA SEMBAHYANG MENGENANG 12 TAHUN GEMPA DAN TSUNAMI

15727318_1296170217107681_4570700513713672621_n.jpgPemandangan yang berbeda terlihat dikuburan massal yang terletak di Siron, Kec. Ingin Jaya, Aceh Besar. Didepan momunen terlihat dua orang yang sedang hikmat dan khusyuk saat mereka melakukan upacara sembahyang, ritual tersebut dilakukan oleh penganut agama Buddha sebagai mediasi pengiriman doa kepada korban yang dikebumikan dikuburan massal tersebut.

Pemandangan yang seperti ini, tentunya menjadi pembeda suasana. Pasalnya, sebagian besar penziarah, hanyut dalam kekhusukan membaca Surat Yasin sambil sesekali tersedu, serta merenung sembari mengeluarkan air mata mengenang peristiwa pahit silam. sedangkan mereka terlihat serius dan larut menjalankan ritual. Kungunjungan ziarah Mereka kekuburan massal Siron, tepat sehari sebelum tanggal peringatan Tsunami(25/12).

Kedua orang yang beragama Buddha tersebut, berziarah tepat sehari sebelum acara puncak, alasan mereka demi menghindari padatnya massa yang juga akan berziarah pada esok harinya. Ketetapan peringatan Tsunami diperingati oleh masyarakat Aceh setiap tanggal 26 Desember  yang merupakan hari puncak peringatan Tsunami di Aceh, sehingga hal itu bisa menyebabkan ketidakkhusukan jika mereka berziarah tepat hari puncaknya dan akan menyulitkan mereka pada proses ritualnya.

Usai upacara sembahyang, mereka melanjutkan proses menyebarkan Dupa dititik tertentu pada areal kuburan dan meletakkan karangan bunga pada monument yang bertuliskan, Bala tasaba nekmat tasyuko disinan le ureueng bahgia (bencana kita sabari nikmat kita syukuri banyaklah orang yang akan bahagia) sebagai tanda penghormatan kepada korban jiwa pada bencana yang meluluhlantakan Aceh 2004 silam.

Salah seorang dari mereka bernama Yuswar yang merupakan Aktivis Buddhayana di Aceh, serta menjabat sebagai wakil ketua DPD Gerindra Prov. Aceh. Ia sendiri setiap tahunnya selalu  memperingati hari Tsunami Aceh, sama halnya seperti yang dilakukan masyarakat Aceh pada umunnya. Namun, tentunya dengan cara yang berbeda. Setiap tahunnya yuswar melakukan   upacara sembahyang dengan rasa saling menghargai antar sesama.

Bencana maha dahsyat yang menimpa Aceh 12 tahun silam yang menelan ratusan ribu korban jiwa, ternyata juga menimpa keluarga serta kerabat Yuswar yang menjadi korban jiwa pada peristiwa yang menakutkan tersebut. Jasad dari beberapa keluarga dan sanaksaudara tak tahu dimana berada kala itu, hal itu yang menjadi sebab kuat setiap tahunnya ia melakukan ziarah ketempat-tempat kuburan masal dan meyakini mereka yang sudah tiada ikut terkubur bersama disana.

Yuswar sendiri merupakan salah seorang korban yang selamat dari guncanagan gempa dan terjangan Tsunami mahadahsyat yang terjadi di tanah serambi mekkah, sehingga dikala itu Dunia ikut menangis menyaksikannya, kemudian tak heran banyak uluran tangan dari mereka yang  merasa simpati pada masyarakat Aceh yang menjadi memilukan.

“banyak urusan yang masih harus diperbaiki didunia ini, oleh kerena itu kami selamat. Sedangkan para korban yang sudah tiada sudah menyelesaikan tugasnya dan kembali padaNya” cetusnya sangat ditanyai tentang bagaimana saat ia merasakan sendiri betapa menakutkan peristiwa tersebut.

Ia tidak banyak memberikan komentar saat ditanyai tentang masa silam yang kelam tersebut, rasa sedih selalu menyelimutinya jika mengingat peristiwa pahit itu. Oleh sebab ia menambahkan “kita yang masih tinggal segera selesaikan urusan, jangan terlalu larut karena mereka disana sudah selesai dengan segala urusan”

Kuburan massal Siron baginya, sudah mewakili dari doa yang Ia kirimkan kepada keluarga dan kerabat yang tidak ia ketahui pasti apakah ada sanaksaudaranya yang dikebumikan dikuburan massal tersebut, atau bahkan malah dikuran massal liannya yang ada di Ulee Leue dan Lhok Nga yang mungkin saja ada disana.

Pria paruh baya aktivis Buddhayana itu beserta rekannya yang lain, turut aktif menangani bencana yang terjadi beberapa waktu di Pidie Jaya. Ia menaruh perhatian dan turut prihatin tentang yang dialami oleh masyarakat Pidie, karena hal yang serupa pernah menimpanya 12 tahun silam, yang menyebabkan hilangnya harapan dan kesedihan yang mendalam bagi korban yang kehilangan harta dan keluarga tercinta.

HINDARI ANAK DARI NARKOBA GORILA

Nama: Ade Putra Setiawansyah

Nim : 411307110

MK : Komunikasi Persuasif

Tugas final: menganalisis perkembangan isu-isu teraktual  dengan perspektif persuasif

 Tembakau gorila sendiri masih asing disebagian telinga masyarakat Indonesia. Apa itu tembakau gorila? Bentuknya seperti tembakau pada umumnya dengan efek yang kabarnya lebih kuat dari ganja. Apalagi, efek dari penggunaan rokok jenis baru ini bisa membuat seseorang seperti “ditiban” seekor gorila besar.

Tembakau super cap Gorilla marak beredar pada pengujung tahun 2016 ini dan dikonsumsi oleh kalangan remaja yang lingkupnya masih dalam Pulau Jawa, artinya belum beredar luas diseluruh Indonesia. Efeknya sendiri tidak seperti ganja yang bisa membuat seseorang tertawa. Namun, ketika dua kali menghisap tembakau super cap Gorilla, seseorang seperti tidak bisa bergerak.

Gors atau gori (istilah lain dari produk tembakau tersebut) merupakan tembakau kering yang dicampurkan dengan beberapa bahan organik (ekstrak tumbuhan) seperti yang tertera pada kemasan. Beberapa tumbuhan organik yang diekstrak antara lain cengkih Syzygium aromaticum dan tumbuhan ekor singa atau dagga liar (Leonotis leonurus).

Dalam kemasan 5 gram, produk tembakau itu dihargai sebesar Rp300 ribu-Rp350 ribu dan hanya bisa dibuat 10 linting tipis rokok. Meskipun terbilang mahal, tidak sedikit testimoni pujian dari konsumen tertera pada setiap kolom komentar pada akun penjual tembakau tersebut.

Beberapa sensasi yang dialami pengguna saat mengisap tembakau Gorilla dapat berupa halusinasi seperti ditimpa seekor gorilla, badan yang tertimpa terasa seperti merileks dan mengambang (ngefly), maupun gerak badan yang terbatas hingga tidak bisa bergerak.

Ekstrak yang dicampur pada tembakau gorilla, yaitu tumbuhan ekor singa atau dagga liar, memiliki peranan yang besar dalam menciptakan sensasi bermacam-macam bagi pengguna. Ekor singa atau dagga liar di beberapa negara digunakan sebagai subtitusi ganja. Kandungan tinggi sedatif (penenang) terkandung dalam tumbuhan itu.

Tembakau Super cap Gorilla atau tembakau gorila kini masuk dalam daftar narkoba jenis baru. Tambakau tersebut disalahgunakan sebagai obat penenang. Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Kombes Pol Slamet Pribadi mengungkap, Balai Laboratorium Uji Narkoba BNN menemukan tembakau gorila mengandung zat AB-CHMINACA. Zat itu berjenis Synthetic Cannabinoid. (dikutip dari Liputan6.com pada 5/1/17, dilansir pada 12/10/16 ).

Sebuah testimoni dari pengguna tembakau gorilla ini menggambarkan bagaimana tembakau gorilla bekerja.

“Jadi setelah kita buat sekitar 1 linting papir mars brand atau Tdynamite, Kemudian saya coba baks, diluar perkiraan saya ternyata rasa dan aromanya cukup nikmat seperti bau kembang gula atau karamel dan sekitar hisapan ke 5 -6 barulah saya bersama kawan-kawan mulai merasakan seperti digelayutin gorila besar pundak kita rasanya. Tapi asiknya berasa sangat rileks, happy dan mudah tertawa (euforia). Kalau teman saya bilang : “Longsor nih badan, berasa ga bertulang..” tulis octarendra.com.

Seseorang pengguna atau pencandu narkoba disebabkan beberapa faktor antara lain Frustasi, Broken Home, Ingin disebut modern, dan sebab-sebab lain. Frustasi dapat menyebabkan seseorang mengkonsumsi narkoba, misalnya ketika seorang remaja mengalami banyak masalah dan ingin keluar dari masalahnya sehingga mereka mencari jalan keluar untuk menghilangkan kesedihannya sehingga mereka mengonsumsi narkoba karena narkoba menawarkan kenikmatan dan ketenangan yang tidak mereka rasakan saat di lingkungan keluarga sehingga mereka terjerumus.

Penomena ini tentunya memang sangat disayangkan kehadirannya, sama seperti jenis narkotika lainya yang dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis. Tentunya apapun jenis dari narkoba yang dikosumsi oleh orang-orang yang ada dilingkup yang kita sayangi sudah melanggar hukum negara serta hukum Agama.

Dari Ummu Salamah, ia berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam melarang dari segala memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)” (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6:309. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini dho’if)

Penyalahgunaan narkoba adalah perbuatan melanggar hukum dan agama. Pelanggaran itu tertuang dalam (pasal 59 UU No.5 Tahun 1997, tentang Psikotropika) dan (Undang-Undang No.22, tahun 1997 tentang Narkotika). Sementara itu, dalam pandangan agama islam penyalahgunaan narkoba dan meminum minuman beralkohol merupakan dosa besar, sebagaimana terdapat dalam (Q.S. Al-Baqarah, 2:219 dan Q.S. Al-Maidah, 5:91). Setiap zat, bahan atau minuman yang dapat memabukkan dan melemahkan akal sehat, seperti halnya narkoba cap gorila jenis baru ini, haram hukumnya (H.R. Abdullah bin Umar.r.a).

Kasus narkoba jenis gorila ini marak dikalangan remaja, maka dari itu, untuk mencegah supaya orang-orang yang kita cintai dan kita sayangi. Maka, peran dari masing-masing orang tua harus menjadi teman yang baik bagi anak-anak mereka dirumah.

Seperti penjelasan sebelumnya akibat seseorang menjadi pecandu dikarena orang tua dari berbagai persoalan didikan yang diterapkan dirumah. Orang bijak mengatakan baiknya akal budi dari seorang anak tergantung dari didikan orang tuanya.

Tugas orangtua untuk mengasuh, membesarkan,  mendidik, dan mengembangkan talenta mereka agar memiliki kepribadian yang tidak tercela. Untuk itu anak-anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, perasaan aman dan nyaman terlindungi, hubungan yang harmonis orangtua dan anak, diberi kebebasan mengemukakan pendapat rasional,  berkata jujur, dihargai dan dipercaya untuk meraih prestasi.

Dengan memberikan pendidikan keluarga yang baik kepada anak akan berkembang menjadi seorang dewasa yang membedakan perbuatan yang baik dan buruk, memiliki psikologis dan kepribadian yang stabil, bertanggungjawab dan mampu melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi pribadi yang bersangkutan, keluarga dan masyarakat.

Pendidikan keluarga sering menjadi tidak efektif dan berdampak jangka panjang akibat kesalahan orangtua dalam mengasuh. Oleh karena itu orangtua penting menguasai dasar-dasar mendidik anak, cara penerapan mendidik sehari-hari, kemudian sikap orangtua harus bijak kapan harus tegas dan kapan harus kompromi, serta harus mampu memahami psikologis anak.

Munculnya ancaman dan peningkatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba gorila jenis baru gorila membuat orangtua harus bekerja ekstra keras untuk dapat mendampingi anak-anaknya dalam melakukan kegiatan baik di rumah maupun di luar rumah.  Dengan demikian diharapkan agar munculnya perilaku menyimpang dan anti sosial yang terjadi pada anak yang baik (normal) dapat dicegah atau diminimalisir.

Di rumah, orangtua sekarang harus bisa menjadi teman sekaligus sahabat bagi anak-anaknya ketika di rumah. Elbert Hubbard berpendapat, teman anda adalah orang yang mengetahui seluruhnya tentang anda dan tetap menjadi teman anda.  Karena tuntutan jaman, orangtua sekarang berkewajiban  menjadi sahabat dan teman baik bagi anak-anaknya, terutama saat di rumah.

Anjuran pakar pendidikan, hal yang mutlak dilakukan orangtua terhadap anaknya yaitu melakukan komunikasi. Saluran-saluran yang tersumbat hendaknya dibersihkan sehingga dengan komunikasi jujur, terbuka dan lancar anak akan menjadi lebih bahagia dari pada kecukupan harta.

Sebagai teman dan sahabat bagi anak -anaknya,  tugas orangtua tidak saja cukup menemani  anak melakukan kegiatan di lingkungan rumah tetapi juga bersedia mendengarkan keluh-kesah, pendapat anak-anak yang diutarakan secara tulus, jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi dan tidak ada perasaan takut atau perasaan bersalah.

Tugas  orangtua lainnya, harus mampu memberikan solusi atau jalan keluar atas masalah yang  dihadapi anak. Serta memberikan dukungan kepada  anak-anak (yang bersangkutan) agar suasana hatinya menjadi lebih tenang, tegar dan mampu mengatasi masalah secara bertanggungjawab.

Joseph Joubert mengingatkan kepada para orangtua, anak-anak lebih membutuhkan teladan dari pada kecaman. Dan, Harold S. Hulber mengatakan, anak-anak membutuhkan cinta, terutama bila mereka tidak layak menerimanya.

Dengan kesediaan para orangtua menjadi teman anak-anaknya di rumah, mungkin hanya dengan nonton televisi, atau menemani belajar anak akan merasa diperhatikan dan dekat dengan orangtuanya. Anak akan semakin mudah untuk melakukan komunikasi dengan orangtuanya secara positif.

Kasih sayang orangtua kepada anak-anaknya dapat diwujudkan dengan cara aman, yaitu memberikan dorongan dan restu kepada anak untuk melakukan kegiatan alternatif seperti  olahraga, bermain musik,  hunting foto, dan sebagainya. Dorongan lainnya  bisa pula  dengan mengajarkan untuk berpola hidup sehat, berperilaku bertanggungjawab,  mengembangkan talenta anak, menanamkan percaya diri. Orang tua juga harus mampu untuk mencegah pengaruh iklan di media massa, mengajarkan cara-cara menolak dan menjelaskan bahaya dan dampak buruk yang dapat ditimbulkan akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap tembakau gorila, dan memantau pergaulan anak untuk melindungi dari jerat-jerat pelanggaran hukum.

Hal yang tidak kalah penting, orangtua hendaknya  berusaha untuk menjadi tempat “curhat” (curahan hati) bagi anak-anaknya, dan anak-anak tidak mencari tempat “curhat” lain pada orang lain secara sembarangan.  Membiarkan anak menumpahkan perasaan hati, pendapatnya  secara bebas akan melegakan perasaan dan bebannya yang tidak pernah orangtua ketahui. Setelah anak puas menumpahkan uneg-uneg dan permasalahan yang dihadapi berikanlah dukungan spirit dengan misalnya, memeluk sambil memberikan ulusan ringan yang tidak memberikan beban tetapi juga member solusi untuk permasalahan yang sedang anak hadapi.

Sebab, dalam kondisi-kondisi lemah seseorang semacam itulah orang-orang tidak bertanggung jawab senang sekali untuk menjerat dengan narkoba jenis baru tersebut.

Permasalahan narkoba sekarang ini telah menjadi ancaman dan keprihatinan bersama. Bahkan, dapat dikategorikan sebagai kejahatan transnasional crime yang hanya bisa dihadapi dengan melakukan kerjasama oleh semua komponen bangsa Indonesia juga bekerjasama dengan dunia internasional dalam menanggulanginya.

Setiap tahun korban penyalahgunaan narkoba terus bertambah seiring dengan perkembangan hidupan di dunia ini menjadi permasalahan utama. Kerja keras Badan Narkotika Nasional (BNN) dan aparat kepolisian untuk mewujudkan Indonesia bersih dari narkoba selalu disambut oleh para pelaku kejahatan (sindikat) narkoba yang tidak pernah takut dan jera melakukan perdagangan gelap di negeri tercinta ini.

Untuk itu masyarakat dan bangsa ini harus lebih paham dan sadar, khususnya para orangtua dapat melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba di rumah secara efektif. Caranya pun tidak sulit untuk diterapkan di setiap keluarga di rumah.

Berikut ini langkah-langkah atau program sederhana untuk dikerjakan para orangtua di rumah.

  • Menciptakan keadaan rumah yang bersih, sehat.
  • Menciptakan hubungan antar anggotanya yang serasi dan harmonis.
  • Menciptakan keluarga yang penuh dengan perhatian,  cinta dan kasih sayang.
  • Menciptakan komunikasi terbuka  antara orangtua dan anak.
  • Mengasuh, memberikan pendidikan yang baik demi masa depan anak.
  • Menjadi panutan (teladan) anak,  orangtua harus sentiasa mengajarkan hal-hal yang baik. Perilaku orangtua sering menjadi inspirasi anak.
  • Menyusun peraturan keluarga yang disepakati bersama untuk melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan keluarga.
  • Mengawasi dan memantau anak dan teman-temannya, dimana mereka berada, melakukan apa disana, dengan siapa saja mereka melakukan kegiatan dan siapa yang bertanggungjawab, dan sebagainya.
  • Mengikuti perkumpulan orangtua untuk saling tukar-menukar informasi sehingga terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki mudah untuk mengatasi atau melakukan pencegahan sebelum terjadi sesuatu yang tidak dinginkan.

Semoga dengan semakin meningkatnya kesadaran orangtua untuk mandiri melakukan pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba jenis baru ini, maka efeknya anak-anak generasi muda bangsa Indonesia bisa mewujudkan komitmennya dan terhindar dari jeratan hukum dan mendapat syurga diakhirat kelak.

Manajemen Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan. Secara makro, faktor-faktor masukan pembangunan, seperti sumber daya alam, material dan finansial tidak akan memberi manfaat secara optimal untuk perbaikan kesejahteraan rakyat bila tidak didukung oleh memadainya ketersediaan faktor SDM, baik secara kualitas maupun  kuantitas. Pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai negara maju adalah, bahwa kemajuan yang dicapai oleh bangsa-bangsa di negara-negara tersebut didukung oleh SDM yang berkualitas. Jepang, misalnya, sebagai negara pendatang baru (late comer)  dalam kemajuan industri dan ekonomi memulai upaya mengejar ketertinggalannya dari negara-negara yang telah lebih dahulu mencapai kemajuan ekonomi dan industri (fore runners)  seperti Jerman, perancis dan Amerika dengan cara memacu pengembangan SDM (Ohkawa dan Kohama 1989).

Pengembangan SDM pada intinya diarahkan dalam rangka meningkatkan kualitasnya, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan produktivitas. Hasil berbagai studi menunjukkan, bahwa kualitas SDM merupakan faktor penentu produktivitas, baik secara makro maupun mikro. Sumber Daya Manusia (SDM) secara makro adalah warga negara suatu bangsa khususnya yang telah memasuki usia angkatan kerja yg memiliki potensi untuk berperilaku produktif (dengan atau tanpa pendidikan formal) yg mampu memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan keluarganya yang berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat di lingkungan bangsa atau negaranya.

Kualitas SDM Makro sangat dipengaruhi oleh kualitas kesehatan (fisik dan psikis), kualitas pendidikan informal dan formal (yang berhubungan dengan keterampilan/keahlian kerja), kepribadian terutama moral/agama, tingkat kesejahteraan hidup dan ketersediaan lapangan kerja yang relevan.

Dalam konteks mikro, Sumber Daya Manusia adalah manusia/orang yang bekerja di lingkungan sebuah organisasi yang disebut pegawai, karyawan, personil, pimpinan / manajer, pekerja, tenaga kerja, majikan buruh dll. Di lingkungan organisasi bidang pendidikan adalah semua pegawai administratif, pendidik /guru, dosen serta tenaga kependidikan lainnya.

Dalam kenyataannya manusia (SDM) dengan organisasi sebagai wadah untuk mewujudkan hakikat kemanusiaan dan untuk memenuhi kebutuhan (need) manusia memiliki hubungan yang sangat / kuat.

Oleh karena itu SDM diperlukan oleh setiap institusi kemasyarakatan dan organisasi. Berbagai institusi kemasyarakatan, seperti institusi keluarga, institusi ekonomi, dan institusi keagamaan, SDM merupakan unsur penting dalam pembinaan dan pengembangannya. Demikian pula dalam organisasi, SDM berperan sangat penting dalam pengembangannya, terutama bila diinginkan pencapaian tujuan yang optimal. Bila tujuan akhir setiap kegiatan pembangunan, baik dalam konteks makro maupun mikro, adalah peningkatan taraf hidup, maka optimalisasi pencapaian tujuan itu adalah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia secara optimal. Berdasarkan konsep di atas, dukungan SDM yang berkualitas sangat menentukan keoptimalan keberhasilan pencapaian tujuan itu.

Kualitas SDM ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, di antaranya kesehatan dan kemampuan. Faktor kemampuan sebagai salah satu faktor penentu kualitas SDM bisa dikembangkan di antaranya melalui pendidikan. Jadi, pendidikan merupakan suatu upaya dalam proses pengembangan SDM (Maginson, Joy Mattews, dan Banfield, 1993).

  1. Rumusan Masalah
  2. Perencanaan Pengembangan SDM
  3. Diklat dalam pengembangan SDM
  4. Pengembangan Karyawan
  5. Strategi Pengembangan SDM

  1. Tujuan
  2. Untuk mengetahui apa itu pengembangan SDM.
  3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Diklat dalam pengembangan SDM
  4. Untuk mengetahui Pengembangan Karyawan
  5. Untuk Mengetahui Bagaimana Strategi Pengembangan SDM

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengembangan SDM

                            Sumber daya manusia adala kemempuan terpadu dari daya fikir dan daya fisik yang di miliki individu.perilaku dan sifatnya di tentukan oleh keturunan dan lingkungannya,sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasanya.[1]

            Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.

            Selain itu, Sumber Daya Manusia juga merupakan potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalamme wujudkan eksistensinya yang merupakan asset dan berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) didalam organisasi bisnis, yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.

  1. Perencanaan Pengembangan SDM

Perencanaan SDM dalam suatu organisasi/perusahaan akan dirasakan efektif atau tidak sangat tergantung pada kualitas dan jumlah informasi yang relevan dan tersedia bagi pengambilan keputusan. Dalam praktek pelaksanaan perencanaan SDM yang efektif, pada era global seperti sekarang ini akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satu tantangan yang harus dihadapi, antara lain[2]:

  1. Mempertahankan keunggulan kompetitif

Penyusunan strategi SDM untuk mendukung keseluruhan strategi bisnis merupakan tantangan karena beberapa sebab (1) manajemen puncak tidak selalu mampu mengucapkan secara jernih apa strategi bisnis perusahaan, (2) kemungkinan terdapat ketidakpastian atau ketidaksetujuan mengenai strategi-strategi SDM yang harus digunakan untuk mendukung keseluruhan strategi bisnis, (3) perusahaanperusahaan besar mungkin memiliki unit-unit bisnis yang berbeda.

  1. Menghindari konsentrasi berlebihan pada masalah-masalah harian

Kebanyakan para manajer lebih banyak mencurahkan hal-hal yang bersifat rutinitas dan berperspektif jangka pendek. Dalam konteks ini perencanaan SDM memiliki tantangan untuk masa datang dalam melahirkan orang-orang visioner yang mampu melihat gambaran masa depan secara integral melebihi orang lain di sekitarnya.

  1. Menyusun strategi-strategi SDM yang sesuai dengan karakteristik-karakteristik unik organisasi Menjadi tugas dalam perncanaan SDM mendatang dalam menyusun strategi bisnis berbeda dengan pesaing. Keunikan strategi bisnis yang dijalankan antar perusahaan tidak ada yang sama persis, namun dalam menjaga strategi bisnis yang sukses dijalankan selama ini menjadi suatu hal yang sangat sulit sehingga mudah ditiru pesaing.
  2. Menanggulangi perubahan lingkungan

Lingkungan bisnis yang kompetitif merupakan tantangan bagi program perencaan, bukan saja dalam bidang SDM tetapi dalam hal perencanaan produksi, pemasaran, dan penganggaran lainnya[3]

  1. Menyita komitmen manajemen

Perencanaan SDM di tengah-tengah persaingan bisnis pada situasi ekonomi global saat ini, departemen/manajer SDM seringkali dibuat pusing karena jarang dilibatkan dalam perencanaan strategi bisnis pada tingkat korporat. Tidak adanya pelibatan departemen SDM dalam penentuan rencana strategi bisnis perusahaan mengakibatkan pencapaian tujuan-tujuan organisasi secara keseluruhan kurang optimal. Hal ini menjadi tantangan di masa datang dalam usaha memenangkan setiap persaingan.

  1. Menterjemahkan rencana stratejik ke dalam tindakan

Tantangan lain dalam pelaksanaan perencanaan SDM dan perencanaan strategi bisnis adalah sering tidak adanya kesesuaian antara rencana yang bagus tetapi jelek dalam praktek. Dengan belajar dari keadaan ini, selayaknya pada masa datang sebelum rencana direalisasikan harus diuji dan kaji dulu sehingga bisa memberikan jaminan keberhasilan sebuah perencanaan.

  1. Mengakomodasikan perubahan-perubahan

Tantangan terakhir dalam perencanaan SDM dan perencanaan strategi bisnis perusahaan adalah bagaimana semua rencana yang akan dilakukan dapat menyesuaikan dengan dinamika jaman yang ada. Perencanaan yang tidak akomodatif, tidak lentur, tidak fleksibel dan tidak peka terhadap perkembangan pasar hanya akan melahirkan kumpulan-kumpulan rencana yang sulit untuk direalisasikan.

            Beberapa hal penting perlu diperhatikan dalam pelaksanaan perencanaan SDM yaitu meliputi1:

  • Munculnya perencaan SDM menunjukkan semakin luasnya misi dan fungsinya.
  • Peran-peran staf baru yang purna waktu yang mulai ada pada beberapa perusahaan adalah untuk menyediakan dukungan,petunjuk bagi praktik menejerial dalam perencanaan SDM.
  • Profesional menejeman SDM mengisi berbagai peran tergantung pada tugas dan prioritas organisasi.Tujuan kategori dasar aktivitas yang menghadirkan peran utama merupakan hal yang biasa dalam pengkajian menejemen SDM.
  • Aktivitas yang di dalam kegiatan menejemen SDM menujukkan peran tertentu yang harus di tunjukan.
  • Keterampilan dan peran konsultasi adalah sangat penting dalam mempengaruhi pelaksanaan perubahan dalam menejemen SDM.
  1. Diklat dalam pengembangan SDM

Pelatihan merupakan wahana untuk membangun SDM menuju era globalisasi yang yang penuh dengan tantangan.karena itu,kegiatan pelatihan tidak dapat di abaikan begitu saja terutama dalam memasuki era persaingan uang semakin ketat,tajam,berat pada abad milenium ini.Berkaitan dengan hal tersebut kita menyadari bahwa pelatihan merupakan fundamental bagi karyawan2.

Disadari ataupun tidak,penempatan karyawan dalam bidang kerja tidak dapat menjamin bahwa mereka akan otomatis sukses dalam pekerjannya.Karyawan baru sering tidak tahu apa peranan dan tanggung jawab mereka.permintaan pekerja dan kemampuan karyawannharus di seimbangkan melalui program orientasi dan pelatihan.kedua kegiatan tersebut sangat di perlukan dalam perusahaan.Apabila karyawan telat di latih dan telah mahir dalam bidanng kerjanya,mereka memerlukan pengembangan yang lebih lanjut untuk mempersiapkan tanggung jawab mereka di masa mendatang.Dengan mengikuti perkembangan dan pertumbuhan,yang ditandai dengan makin besarnya diversifikasi tenaga kerja,bentuk organisasi dan pe[4]rsaingan global yang terus meningkat,upaya pelatihan dan pengembangan memungkinkan karyawanuntuk memperluas kewajiban serta tanggung jawabnya yang lebih beasar.[5]

Meskipun kegiatan pelatihan dapat membantu karyawan untuk mengerjakan tugasnya yang ada sekarang,manfaat kegiatan pelatihan dapat terus diperluas memperluas pembinaan karier karyawan dan membantu mengembangkan karyawan tersebut untuk untuk mengembangkan tanggung jawabnya dimasa mendatang.

Pelatihan adalah salah satu bentuk edukasi dengan prinsip-prinsip pembelajaran.Langkah-lanhkah berikut dapat di terapkan dalam pelatihan[6]:

  • Pihak yang diberikan pelatihan(traince) harus dapat di motivasi untuk belajar.
  • Traince harus mempunyai kemampuan untuk belajar.
  • Proses pembelajaran harus dapat dipaksakan atau di perkuat;
  • Pelatihan harus menyediakan bahan-bahan yang dapat di praktikkan atau diterapkan.
  • Bahan-bahan yang di presentasikan harus memiliki arti yang lengkap dan memenuhi kebutuhan`
  • Materi yang diajarkan harus memiliki arti yang lengkap dan memenuhi kebutuhan.

Pelatihan Iebih terarah pada peningkatan kemampuan dan keahlian SDM organisasi yang berkaitan dengan jabtan atau fungsi yang menjadi tanggung jawab individu yang bersangkutan saat ini ( current job oriented). Sasaran yang ingin dicapai dan suatu program pelatihan adalah peningkatan kinerja individu dalam jabatan atau fungsi saat ini.

Terdapa banyak pendekatan untuk pelatihan ada lima jenis-jenis pelatihan yang dapat diselenggaraka:

  1. Pelatihan Keahlian

Pelatihan keahlian (skils training) merupakan pelatihan yang sering di jumpai dalam organisasi. program pelatihaannya relatif sederhana: kebutuhan atau kekuragan diidentifikasi rnelalui penilaian yang jeli. kriteria penilalan efekifitas pelatihan juga berdasarkan pada sasaran yang diidentifikasi dalam tahap penilaian.

  1. Pelatihan Ulang.

Pelatihan ulang (retraining) adalah subset pelatihan keahilan. Pelatihan ulang berupaya memberikan kepada para karyawan keahlian-keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi tuntutan kerja yang berubah-ubah. Seperti tenaga kerja instansi pendidikan yang biasanya bekerja rnenggunakan mesin ketik manual mungkin harus dilatih dengan mesin computer atau akses internet

  1. Pelatihan Lintas Fungsional.

Pelatihan lintas fungsional (cros fungtional training) melibatkan pelatihan karyawan untuk melakukan aktivitas kerja dalam bidang lainnya selain dan pekerjan yang ditugaskan.

            4.Pelatihan Tim

Pelatihan tim merupakan bekerjasarna terdiri dari sekelompok Individu untuk menyelesaikan pekerjaan demi tujuan bersama dalam sebuah tim kerja.

  1. Pelatihan Kreatifitas.

Pelatihan kreatifitas(creativitas training) berlandaskan pada asumsi hahwa kreativitas dapat dipelajari. Maksudnya tenaga kerja diberikan peluang untuk mengeluarkan gagasan sebebas mungkin yang berdasar pada penilaian rasional dan biaya dan kelaikan.

  1. Pengembangan Karyawan

Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis , teoritis, konseptual, dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/ jabatan melalui pendidikan dan latihan.

Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan  kemampuan teknis , teoritis, konseptual, dan [7]moral karyawan, sedangkan latihan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis pelaksanaan pekerjaan karyawan.

 pendidikan dan latihan sama dengan pengembangan yaitu mrupakan proses peningkatan keterampilan kerja baik teknis maupun manajerial. Pendidikan berorientasi pada teori, dilakukan dalam kelas, berlangsung lama, dan biasanya menjawab konsep why.Latihan berorientasi pada praktek, dilakukan dilapangan, berlangsung singkat dan biasanya menjawab konsep how.

Pengembangan karyawan bertujuan dan bermanfaat bagi perusahaan, karyawan, konsumen, atau masyarakat yang mengkonsumsi barang/jasa yang di hasilkan perusahan.

Tujuan pengembangan hakikatnya ,menyangkut hal-hal berikut.

  1. Produktivitas kerja

Dengan pengembangan, produktivitas kerja karyawan akan meningkat, kualitas dan kuantitas produksi semakin baik, karena technical skill, human skill, dan managerial skill karyawan yang semakin baik.

  1. Efisiensi

Pengembangan karyawan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi tenaga, waktu, bahan baku, dan mengurangi ausnya mesin-mesin. Pemborosan berukuran, biaya produksi relatif kecil shingga daya saing perusahaan semakin besar.

  1. Kerusakan

Pengembangan bertujuan untuk mengurangi kerusakan barang, produksi, dan mesin-mesin karena karyawan semakin ahli dan terampil dalam melaksanakan pekerjaannya.

  1. Kecelakaan

Pengembangan bertujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan karyawan, sehingga jumlah biaya pengobatan yang dikeluarkan perusahaan berkurang.

  1. Pelayanan

Pengembangan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik dari karyawan kepada nasabah perusahaan, karena pemberian pelayanan yang baik merupakan daya penarik yang sangat tinggi bagi rekanan-rekanan perusahaan bersangkutan.

  1. Moral

Dengan pengembangan, moral karyawan akan lebih baik karena keahlian dan keterampilannya sesuai dengan pekerjaannya sehingga mereka antusias untuk menyelesaikannya dengan baik.

  1. Karier[8]

Dengan pengembangan, kesempatan untuk meningkatkan karier karyawan semakin besar, karena keahlian, keterampilan, danprestasi kerjanya lebih baik. Promosi ilmiah biasanya didasarkan kepada keahlian dan prestasi kerja seseorang.

  1. Konseptual

Dengan pengembangan, manajer semakin cakap dan cepat dalam mengambil keputusan yang lebih baik, karena technicall skill, human skill, dan managerial skill-nya lebih baik.

[9]i. Kepemimpinan

Dengan pengembangan, kepemimpinan seorang manajer akan lebih baik, human relations-nya lebih luas, motivasinya lebih terarah sehingga pembinaan kerja sama vertikal dan horizontal semakin harmonis.

  1. Balas jasa

Dengan pengembangan, balas jasa ( gaji, upah insentif, dan benefits ) karyawan akan meningkatkan karena prestasi kerja mereka semakin besar.

  1. Konsumen

Pengembangan karyawan akan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat konsumen karena mereka akan memperoleh barang atau pelayanan yang lebih bermutu.

Prinsip pengembangan adalah peningkatan kualitas dan Program pengembangan Program yang merupakan suatu jenis rencana yang konkret karena di dalamnya sudah tercantum sasaran, kebijaksanaan, prosedur, anggaran, dan waktu pelaksanaannya. Jelasnya suatu program sudah pasti di lakukan. Supaya pengembangan ini mencapai hasil yang baik dengan biaya yang reletif kecil hendaknya terlebih dahulu di tetapkan program pengembangan.

Dalam program pengembangan harus dituangkan sasaran, kebijaksanaan, prosedur, anggaran, peserta, kurikulum, dan waktu pelaksanaannya. Program pengembangan harus berprinsipkan pada peningkatan efektivitas dan efesien kerja masing-masing karyawan pada jabatannya. Program pengembangan suatu organisasi hendaknya di informasikan secara terbuka kepada semua karyawan atau anggota supaya mereka mempersiapkan dirinya masing-masing.

  1. Strategi pengembangan SDM

Masyarakat miskin dengan berbagai karakternya juga memiliki hak untuk mendapatkan program pengembangan SDM. Secara mikro, program ini diharapkan mampu memberikan solusi kepada masyarakat miskin untuk berubah menjadi masyarakat yang kaya baik jiwa maupun hartanya. Secara makro, adanya program ini akan menaikkan rating mutu SDM yang dimiliki negara dimata dunia internasional. Disamping itu, beban negara daam bentuk mata anggaran program pengentasan kemiskinan juga akan semakin berkurang[10].

Agar tujuan tercapai, organisasi harus mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki, termasuk sumber daya manusia (pegawai). Dalam hal ini, para perencana pengembangan SDM harus bisa mengantisipasi program dan kegiatan apa saja, yang berhubungan dengan pegawai, yang dapat mendukung tercaainya tujuan organisasi. Terdapat 2 (dua) macam program pengembangan SDM, yaitu strategi training dan strategi [11]non-training.

  1. Strategi Training

Secara umum, kita mengambil strategi training jika dan hanya jika masalah yang kita hadapi dan sumber masalahnya berhubungan langsung dengan kemampuan pekerja (kognitif, psikomotor atau sikap). Beberapa macam training berikut ini dapat dijadikan sebagai sarana pengembangan SDM, yaitu:

  1. Information Processing (seminar, briefing, belajar mandiri)
  2. On the Job Training (berlatih sambil bekerja, bekerja sambil berlatih)
  3. Simulasi (pelatihan dalam konteks kerja buatan yang dibuat semirip mungkin dengan konteks kerja sesungguhnya)

Selain itu, training juga dapat bersifat :

  1. Terpusat (semua trainee ditempatkan di satu tempat)
  2. Tersebar (trainee di tempat-tempat yang tersebar sesuai dengan materi, kepangkatan, divisi kerja, tujuan pelatihan dan sebagainya).

Sedangkan di dalam kegiatan training itu sendiri, kita boleh memakai berbegai pendekatan, antara lain:

  1. Ceramah
  2. Diskusi kelompok[12]
  3. Simulasi
  4. Bermain p[13]eran (role play)
  5. Demonstrasi
  6. Belajar mandiri
  7. Studi kasus
  8. Praktek lapangan
  9. Penelitian
  10. Praktek laboratorium
  11. Strategi Non-Training

Kita mengambil strategi nontraining jika masalah dan sumbernya berhubungan dengan hal-hal selain kemampuan pekerja. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan kita mengambil strategi nontraining untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan kemampuan pekerja (misalnya pekerja mengalami kecelakaan fatal, pekerja dianggap terlalu bebal selalu membuat masalah dan sebagainya).

Dalam kenyataan sehari-hari, kita seringkali harus mengambil beberapa alternatif strategi sekaligus. Strategi yang kita ambil barangkali kombinasi antara “memperbaiki sistem manajemen” dan “memperbaiki desain pekerjaan”. Tak jarang pula kombinasi itu antara strategi training dan nontraining (misalnya “memperbaiki desain pekerjaan” dan  “melatih pekerja”.

Belum sempurnanya dukungan pemerintah terhadap pengembangan SDM baik pada tingkat dasar, menengah, atas mapun pendidikan tinggi, tidak boleh memupuskan harapan masyarakat miskin. Oleh karena itu, diperlukan strategi mikro yang mampu menjadi jalan keluar bagi pengembangan SDM masyarakat miskin. Strategi ini bisa diterapkan oleh lembaga-lembaga sosial kemanusiaan maupun perusahaan melalui Corporate Social Responsibity (CSR).

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

            Sumber daya manusia sebagai pemilik, pengolah, pengelola, dan pengguna pengetahuan memerlukan sarana yang menunjang tercapainya informasi yang mendukung dan menambah pengetahuan serta keterampilannya. Oleh karena itu diperlukan pengembangan sumber daya manusia dalam organisasi, baik untuk manajer maupun karyawan.

            Untuk mengembangkan sumber daya manusia diperlukan metode yang berbeda untuk mengembangkan manajer dan karyawan. Untuk manajer metode pengembangannya menggunakan metode pendidikan yang berupa rotasi jabatan, coaching, dewan yunior, belajar bertindak, metode studi kasus, permainan manajemen, dan seminar diluar. Sedangkan, untuk para karyawan menggunakan metode pengembangan pelatihan on the job, vestibule, demonstration and example, simulation, apprenticheship, dan classrom methods. Tujuan dari pengembangan SDM adalah untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi kecelakaan kerja, meningkatkan karir dan mengurangi kerusakan selama melakukan kegiatan operasional organisasi.

            Oleh karena itu organisasi harus senantiasa mengembangkan kemampuan Sumber Daya Manusiannya agar organisasi dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensinya. Sehingga, keunggulan kompetitif organisasi tersebut dapat meningkat guna menghadapi perubahan teknologi dan informasi yang cepat serta mengatasi persaingan-persaingan organisasi yang semakin tinggi.

                                                          DAFTAR PUSTAKA           

Raimond A.Noe.Menejemen Sumber Daya Manusia(Yogyakarta:2007)

SimamoraSumber Daya Manusia(Yogyakarta:2006)

 

Jan BellaMenejemen Sumber Daya Manusia.(jakarta:2010)

 

vitzal Rivai,M.B.A.Imenejemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan(Jakarta:2004)

 

[1]Raimond A.Noe.Menejemen Sumber Daya Manusia(Yogyakarta:2007),hal:121

[2]SimamoraSumber Daya Manusia(Yogyakarta:2006)hal:276

                                                                                                                                                               

[3] SimamoraSumber Daya Manusia(Yogyakarta:2006)hal:276

 

[5] Raimond A.Noe.Menejemen Sumber Daya Manusia(Yogyakarta:2007),hal:124

[6] veitzal Rivai,M.B.A.Imenejemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan(Jakarta:2004),hal:403

[7] Jan BellaMenejemen Sumber Daya Manusia.(jakarta:2010)hal:94

Ibid 1

[10] Simamora Sumber Daya Manusia(Yogyakarta:2006)hal:276

 

Ibid 1

Eksistensi Sistem Pers Era Orba dan Reformasi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Secara sederhana, demokrasi bisa didefinisikan sebagai kekuasaan di tangan rakyat, atau kekuasaan oleh rakyat. Selain itu, demokrasi mempunyai dua aspek, yaitu aspek prosedural dan aspek substantif. Demokrasi dalam aspek prosedural mencoba menjawab masalah tentang bagaimana rakyat bisa ikut memerintah dan mengawasi pemerintah, seperti memilih pemimpin nasional dan wakil-wakil rakyat dalam pemilihan umum, proses pengambilan keputusan dalam kebijakan publik, mekanisme pengawasan efektif terhadap pemerintah, parlemen, yudikatif dan sebagainya. Demokrasi dalam aspek substantif menyentuh masalah apa saja yang bisa diatur oleh pemerintah. Bolehkah pemerintah melakukan intervensi dalam urusan agama, sejauh mana kebebasan berserikat dan kebebasan menyatakan pendapat bisa dijalankan penduduk, sejauh mana pemerintah ikut campur dalam urusan pernikahan antar warganya dan lain sebagainya. Para penganut teori substantif demokrasi, umumnya, bersepakat bahwa pemerintah harus menjamin hak-hak dasar warganegara, perlu mendapat jaminan dari pemerintah. Dalam konteks demokrasi di negara-negara Barat, yang sangat ditekankan adalah perlindungan terhadap civil liberties dan civil rights. Termasuk dalam kategori civil liberties, misalnya, kebebasan beragama dan kebebasan menyatakan pendapat secara terbuka, termasuk juga kebebasan pers.

Dalam hal ini kebebasan pers mendapatkan perhatian untuk dijamin kebebasannya termasuk di Indonesia dari masa ke masa. Sejak merdeka tahun 1945, Indonesia sudah beberapa kali mengalami pergantian sistem pemerintahan. Tahun 1945 sampai 1965 dikenal dengan nama sistem pemerintahan Orde Lama, yang mana merupakan era presiden Soekarno. Setelah presiden Soekarno tumbang, tampung kekuasaan diserahkan kepada jenderal Soeharto yang akhirnya melahirkan sistem pemerintahan Orde Baru. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 sampai tahun 1998. Dikarenakan sudah terlalu lama menjabat dan merajalelanya KKN, presiden Soeharto digulingkan oleh rakyat Indonesia yang akhirnya melahirkan zaman baru bagi Indonesia, reformasi. Reformasi berlangsung dari tahun 1998 sampai sekarang. Disinilah cikal bakal munculnya kebebasan dalam hal berpendapat termasuk semakin diusungnya kebebasan akan pers.

Seiring dengan perkembangan peradaban, situasi kebebasan pers di Indonesia saat ini, bedanya seperti langit dan bumi jika dibandingkan dengan situasi pada era Orde Baru[1]. Dulu, ketika Tommy Soeharto mengalami kecelakaan di sirkuit Sentul (waktu latihan), pers tidak boleh mempublikasikannya karena berita seperti itu dikhawatirkan dapat menjelekkan martabat keluarga Kepala Negara. Pembajakan pesawat Garuda Wyola (1981) saja dilarang disiarkan oleh pers. Belakangan pers diziinkan menyiarkan, tapi harus bersumber dari pemerintah. Sebuah pos polisi di Cicendo, Jawa Barat, suatu hari diserang dan diobrak-abrik oleh sekelompok “orang bersenjata”. Sementara pers mencium berita ini, tapi segera diancam oleh aparat keamanan untuk tidak mempublikasikannya. Berita semacam ini, pada masa Orde Baru, amatlah sensitif, karena menyangkut persoalan “stabilitas nasional”. Jangankan bisnis anak-anak Pak Harto, bisnis petinggi pemerintah pun ketika itu untouchable oleh pers. Selain itu, pers yang bandel dan tidak mengindahkan “imbauan” pemerintah untuk tidak menyiarkan satu berita terancam breidel.[2]

Berbeda dengan era reformasi, kebebasan pers semakin diakui dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers  Pasal 2 yang menandaskan bahwa ”Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum”. Dengan klausul ini, jelas sekali bahwa pers memposisikan dirinya sebagai pelaksana kedaulatan rakyat, atau “kepanjangan tangan rakyat”. Karena negara ini milik rakyat, maka pers perlu diberikan kebebasan seluasnya untuk melaksanakan amanat rakyat tadi.

Pada era reformasi ini, tidak ada obyek, apakah itu perorangan, instansi pemerintah, pejabat Negara atau Presiden sekali pun, yang tidak bisa disentuh dan dikecam oleh pers. Bahkan kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid pun diyakini, sebagian adalah berkat kerja pers. Betapa banyak kasus KKN yang dibongkar oleh pers, baik yang dilakukan pejabat eksekutif, apalagi anggota legislatif. Betapa banyak perilaku buruk wakil rakyat yang ditelanjangi pers. Ketika konflik etnis di Sampit pecah, pers mengeksposnya habis-habisan. Sebuah penerbitan pers daerah pernah mempublikasikan foto kepala seorang korban yang sudah lepas dari badannya tatkala banyak santri NU yang dibunuh oleh “ninja-ninja” misterius. Kasus dugaan korupsi Gubernur Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Abdullah Puteh, sudah marak diungkap pers jauh sebelum aparat hukum melakukan penyidikan. Pada era reformasi tiga “tembok pers” berhasil dirobohkan, kini tidak ada lagi lembaga izin terbit, sensor dan breidel. Bahkan instansi pemerintah yang mengurus ketiga “tembok pers” ini, yaitu Departemen Penerangan R.I sudah lenyap dibubarkan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. Kini siapa pun, termasuk Presiden R.I tidak bisa menutup sebuah penerbitan pers. Pelaksanaan kebebasan pers Indonesia dewasa ini mirip dengan kebebasan pers era tahun 1950-1959 yang dikenal dengan sebutan era demokrasi liberal yang bercorak libertarian.[3]

  1. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana Eksistensi kebebasan Pers di era Orde Baru dalam Hukum Pers ?
  2. Bagaimana Eksistensi Kebebasan Pers di era Reformasi dalam Hukum Pers ?
  3. Tujuan
  4. Untuk mengetahui Eksistensi Kebebesan Pers di Era Orde Baru dalam Hukum Pers.
  5. Untuk mengetahui Eksistensi Kebebesan Pers di era Reformasi dalam Hukum Pers.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.Pengetahuan Mengenai Pers

  1. Pengertian Pers

Istilah “pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris berarti press. Secara harfiah pers berarti cetak dan secara maknawiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak (printed publication)[4].

Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. Dalam pengertian luas, pers mencakup semua media komunikasi massa, seperti radio, televisi, dan film yang berfungsi memancarkan/ menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain. Maka dikenal adanya istilah jurnalistik radio, jurnalistik televisi, jurnalistik pers. Dalam pengertian sempit, pers hanya digolongkan produk-produk penerbitan yang melewati proses percetakan, seperti surat kabar harian, majalah mingguan, majalah tengah bulanan dan sebagainya yang dikenal sebagai media cetak.

  1. Pengertian Kebebasan Pers     

Sebelum membahas pada definisi kebebasan pers alangkah lebih baiknya jika terlebih dahulu mengurai tentang definisi bebas.Apa itu bebas? Bebas artinya kondisi seseorang yang tidak dipaksa melakukan sesuatu.Sedangkan pers berasal dari bahasa latinpressareyang berarti tekan atau cetak. Pers lalu diartikan sebagai media massa cetak (printing media).[5]

Adapun pengertian kebebasan pers itu sendiri menurut berbagai sumber antara lain sebagai berikut :

  1. Kebebasan pers dalam bahasa Inggrisnya disebut Freedom of Opinion and Expression dan Freedom of the Spech. John C. Merril (1989) merumuskan kebebasan pers sebagai suatu kondisi riil yang memungkinkan para pekerja pers bisa memilih, menentukan dan mengerjakan tugas sesuai keinginan mereka. Bebas dari (negatif) dan bebas untuk (positif) .[6]
  2. Kebebasan pers (bahasa Inggris: freedom of the press) adalah hak yang diberikan oleh konstitusi atau perlindungan hukum yang berkaitan dengan media atau bahan-bahan yang dipublikasikan seperti menyebarluaskan, percetakan dan penerbitan melalui surat kabar, majalah, buku atau dalam material lainnya tanpa adanya campur tangan atau perlakuan sensor dari pemerintah.[7]
  3. Kebebasan pers menurut pandangan Islam haruslah sesuai dengan azas atau norma yang berlaku jangan sampai pers tersebut menyimpang dari azas atau norma tersebut.

Dari tiga definisi yang sudah dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa kebebasan pers adalah hak  seseorang untuk memperoleh berbagai informasi dari media massa baik media massa cetak maupun media massa elektronik tanpa mengganggu norma-norma yang diberlakukan oleh konstitusi yang berlaku.

  1. Peran Dan Fungsi Pers

Fungsi dan peranan pers Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Sementara Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut: memenuhi hak masyarakat untuk mengetahuimenegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaanmengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benarmelakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umummemperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi ( the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secra optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah. Menurut tokoh pers, jakob oetama, kebebasan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan pernannya. Sulit dibayangkan bagaiman peranan pers tersebut dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers. Pemerintah orde baru di Indonesia sebagai rezim pemerintahn yang sangat membatasi kebebasan pers . ha l ini terlihat, dengan keluarnya Peraturna Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izn Usaha penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata menjadi senjata ampuh untuk mengontrol isi redaksional pers dan pembredelan.

B. Eksistensi Kebebasan Pers di Era Orde Baru dan Reformasi Dalam Hukum Pers 

  1. Eksistensi Kebebasan Pers di Era Orde Baru Dalam Hukum Pers

Tidak bisa dipungkiri bahwa pers memiliki peran yang sangat penting di suatu negara. Tanpa pers, tidak ada informasi yang bisa tersalurkan baik dari rakyat ke pemerintahnya maupun sebaliknya. Singkat kata, pers memiliki posisi tawar yang tidak bisa diremehkan. Konsepsi Riswandha[8] mengatakan bahwa ada empat pilar pemelihara persatuan bangsa, salah satunya adalah kaum intelektual atau pers. Pers berfungsi sebagai pemikir dan penguji konsep-konsep yang diterapkan pada setiap kebijakan.

Diawal kekuasaannya, rezim pemerintahan Orde Baru menghadapi Indonesia yang traumatis. Suatu kondisi dimana kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya serta psikologis rakyat yang baru tertimpa prahara. Politik satu kata yang tepat ketika itu kemudian dijadikan formula Orde Baru, yakni pemulihan atau normalisasi secepatnya harus dilakukan, jika tidak kondisi bangsa akan kian berlarut-larut dalam ketidakpastian dan pembangunan nasional akan semakin tertunda. Konsentrasi bangsa diarahkan untuk pembangunan nasional. Hampir seluruh sektor dilibatkan serta seluruh segmen masyarakat dikerahkan demi mensukseskan pembangunan nasional tersebut. Pemerintah Orde Baru memprioritaskan trilogi pembangunannya yakni stabilitas, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan sebagai kata kunci yang saling berkait erat serta sebagai bagian doktrin negara.[9]

Oleh karena pemerintah menitikberatkan pembaruan pada pembangunan nasional, maka sektor demokrasi akhirnya terlantarkan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan oleh karena sepeninggalan Orde Lama tidak satupun kekuatan non negara yang bisa dijadikan acuan dan preferensi, serta seluruh yang tersisa mengidap kerentanan fungsi termasuk yang melanda pers nasional. Deskripsi-deskripsi yang sering kali ditulis oleh para pemerhati pers menyatakan bahwa kehidupan pers di awal-awal Orde Baru adalah sarat dengan muatan berbagai kepentingan, ketiadaan pers yang bebas, kehidupan pers yang ditekan dari segala penjuru untuk dikuasai negara, wartawan bisa dibeli serta pers yang bisa dibredel sewaktu-waktu.

Sehingga dapat digambarkan bahwa pada masa Orde Baru atau juga dikatakan pada era pembangunan, mungkin nasib pers terlihat sangat mengkhawatirkan. Bagaiamana tidak, pers sebegitu rupanya harus mematuhi rambu-rambu yang negara telorkan. Dan sejarah juga memperlihatkan kepada kita bahwa adanya PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) tidak membawa perubahan yang bersifat signifikan pada pola represi itu. Yang ada justru PWI dijadikan media yang turut menjadi boneka dari pemerintahan rezim Orde Baru di tanah air pada masa itu.

Hal tersebut terlihat ketika terjadinya pembredelan pada beberapa media massa nasional yang sempat nyaring bunyinya. Ketika beberapa media nasional yang sempat dibredel oleh pemerintah, PWI yang seharusnya menggugat justru memberi pernyataan dapat memahami atau menyetujui keputusan yang sewenang-wenang itu. Lalu PWI pula justru mengintruksikan kepada pemimpin redaksi agar memecat wartawannya yang bersuara nyaring terhadap pemerintah.

Bagaimana tidak bahwa pada dasarnya bagi suatu pemerintahan diktator, kebenaran merupakan bahaya baginya, sebab kebenaran akan membuka seluruh jaringan manipulasinya. Berita-berita yang berasal dari foto jurnalisme serta data dokumenter lainnya memang memiliki daya yang sangat kuat. Misi pertama pers dalam suatu masyarakat yang demokratis atau suatu masyarakat yang sedang berjuang untuk menjadi demokratis adalah melaporkan fakta. Misi ini tidak akan mudah dilaksanakan dalam suatu situasi ketidakadilan secara besar-besaran dan pembagian yang terpolarisasi.

Banyak pers yang khawatir bahwa keberadaannya akan terancam di saat mereka tidak mengikuti sistem yang berlaku. Oleh karena itu guna mempertahankan keberadaannya, pers tidak jarang memilih jalan tengah. Cara inilah yang sering mendorong pers itu terpaksa harus bersikap mendua terhadap suatu masalah yang berkaitan dengan kekuasaan. Dalam kaitan ini pulalah banyak pers di negara berkembang yang pada umumnya termasuk di Indonesia lebih suka mengutamakan konsep stabilitas politik nasional sebagai acuan untuk kelangsungan hidup pers itu sendiri.

Disamping itu, bentuk lain dari kekuasaan negara atas pers di tanah air pada era Orde Baru adalah munculnya SIUPP yakni Surat Izin untuk Penerbitan Pers. Orde Baru sedemikian ketatnya dalam hal pengawasan atas pers, karena mereka tidak menghendaki mana kala pemerintahan menjadi terganggu akibat dari pemberitaan di media-media massa. Sehingga fungsi pers sebagai transmisi informasi yang obyektif tidak dapat dirasakan. Padahal dengan transmisi informasi yang ada diharapkan pers mampu menjadi katalisator bagi perubahan politik atau pun sosial. Sementara pada masa Orde Baru, fungsi katalisator itu sama sekali hilang. Hal ini seperti apa yang disampaikan oleh Abar[10] bahwa kebebasan pers waktu itu ternyata tidak berhasil mendorong perubahan politik menuju suatu tatanan masyarakat yang demokratis, tetapi justru mendorong resistensi dan represi negara. Hal ini merupakan suatu hal yang sangat mendasar tentang sistem kepolitikan Orde Baru khsususnya perlakuannya terhadap lembaga pers.

Akan tetapi, sesungguhnya pada masa Orde Baru terdapat lembaga yang menaungi pers di Indonesia, yaitu Dewan Pers. Sesuai Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999, dewan pers adalah lembaga independen yang dibentuk sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional. Berdasarkan amanat Undang-Undang, dewan pers meiliki 7 fungsi yaitu :

  1. Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain, bisa pemerintah dan juga masyarakat
  2. Melakukan pengkajian untuk pengembangan keidupan pers
  3. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kode etik jurnalistik
  4. Memberikan pertimbangan dan pengupayaan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers
  5. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah.
  6. Memfasilitasi organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi wartawan
  7. Mendata persuahaan pers

Namun sangat disayangkan bahwa dewan pers masa Orde Baru tidak melaksanakan fungsinya dengan efektif. Ironisnya, dewan pers justru tidak melindungi rekan sesama jurnalis. Hal tersebut terlihat saat peristiwa pembredelan media tahun 1994. Banyak anggota dewan pers yang tidak meyetujui pemberedelan tersebut, namun dewan pers dipaksa menyetujui langkah pemerintah tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukan dewan pers selain mematuhi instruksi pemerintah. Menolak sama artinya dengan melawan pemerintah. Bisa disimpulkan keberadaan dewan pers masa orde baru hanya sebatas formalitas.[11]

  1. Eksistensi Kebebasan Pers di era Reformasi Dalam Hukum Pers

Pada runtuhnya rezim orde baru menghasilkan berbagi kelokan sejarah (ephipahy) politik yang cukup dramatis. Hampir seluruh tatanan poltik mengalami perubahan yang cukup mendasar. Undang-Undang politik, kehidupan berdemokrasi, dan produk-produk hukum mengalami perubahan yang sulit diramalkan keajegannya.[12]

Produk hukum pada era reformasi tentang pers ini dapat dikatakan sebagai sapu jagatnya kemerdekaan pers Indonesia, setelah sekian lama didera pembelengguan oleh rezim Orde Baru. Dikatakan sebagai sapu jagat karena Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 menghapus semua ketentuan represif yang pernah berlaku pada era Orde Baru, seperti:

  1. Pasal 9 ayat (2) Uundang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 meniadakan keharusan mengajukan SIUPP untuk menerbitkan pers.
  2. Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 menghilangkan ketentuan sensor dan pembredelan pers.
  3. Pasal 4 ayat (2) juncto Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, melindungi praktisi pers dengan mengancam hukum pidana dua tahun penjara atau denda Rp. 500 juta bagi yang menghambat kemerdekaan pers.[13]

Selain menghapus berbagai kendala kemerdekaan pers tersebut di atas, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 juga memuat isi pokok sebagai berikut. Pertama, Pasal 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, kemerdekaan pers adalah perwujudan dari kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum dan kedua, Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, kemerdekaan pers adalah hak asasi warga negara yang hakiki dan dalam rangka menegakkan keadilan dan kebenaran, serta memajukan dan mencerdaskan bangsa.

Pada masa reformasi, pemerintah juga memberi kemudahan untuk memperoleh SIUPP. Akibat kemudahan memperoleh SIUPP tersebut, jumlah pemohon SIUPP membengkak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan dengan masa Orde Baru.[14] Kebijakan lain Pemerintah Kabinet Reformasi dalam membuka peluang kebebasan pers adalah dengan mencabut SK Menpen Nomor 47 tahun 1975 tentang pengakuan pemerintah terhadap PWI sebagai satu-satunya organisasi wartawan di Indonesia. Pencabutan SK ini, mengakhiri era wadah tunggal organisasi kewartawanan, sehingga tidak sampai dalam satu tahun telah tumbuh 34 organisasi wartawan cetak dan elektronik. Walaupun kehadirannya dapat dipandang sebagai cerminan euphoria kebebasan, akan tetapi di pihak lain dapat menjadi ajang kompetisi wartawan Indonesia meningkatkan profesionalitas mereka.[15]

Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, departemen penerangan yang dianggap mengekang pers dibubarkan. Pemerintah tidak mempunyai ruang untuk mengekang pers. Pers yang tadinya diawasi dengan ketat oleh pemerintah pada masa reformasi ditiadakan. Yang ada hanya Dewan Pers yang bertugas untuk mengawasi dan menetapkan pelaksanaan kode etik, juga sebagai mediator antara masyarakat, pers dan pemerintah apabila ada yang dirugikan.

Pelaksanaan kebebasan pers pada era reformasi dalam kenyataannya masih banyak menghadapi kendala. Euforia kebebasan berpendapat dan kebebasan berorganisasi, ditanggapi dengan banyaknya diterbitkan surat kabar atau media, serta didirikannya partai-partai politik. Fenomena euphoria kebebasan politik berdampak pada kualitas pelaksanaan kebebasan pers. Dalam realitasnya keberhasilan gerakan Reformasi membawa pengaruh pada kekuasaan pemerintah jauh berkurang, untuk tidak mengatakan tiada sama sekali terhadap pers. Pergulatan pers dengan sebuah rezim seolah telah usai. Pada masa reformasi pers sepenuhnya bergulat dengan pasar yang semakin membuat jaya kelompok-kelompok media yang sudah mapan secara ekonomis di masa Orde Baru. Untuk sementara pers Indonesia boleh bernafas lega dari tekanan politis sambil mencari keuntungan uang sebanyak mungkin. Fenomena ini kemudian melahirkan gejala kelompok-kelompok usaha media, seperti Gramedia Grup, Sinar Kasih Grup, Pos Kota Grup, Presindo Grup, dan Grafiti / Jawa Pos Grup.

  

 BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa kebebasan pers pada masa orde baru sangat berbeda dengan kebebasan pers pada masa reformasi. Pada masa orde baru pergerakan pers sangat dibatasi dan hanya sebagai boneka pemerintah untuk melanggengkan kepentingannya. Sedangakan pada masa reformasi, kebebasan pers sangat terjamin. Ruang gerak pers menjadi sangat luas. Pers dapat melakukan fungsi top – down dan bottom – up, walaupun terkadang masih dimanfaatkan sebagai alat penguasa serta pemilik modal. Kebebasan pers masa reformasi juga bukan berarti tanpa masalah, banyak masalah yang timbul akibat dari kebebasan pers itu sendiri.

  1. Saran

Adapun yang menjadi saran-saran dalam penulisan makalah ini adalah :

  1. Bagi pihak pemerintah tentunya harus mengetahui posisi strategis keberadaan pers saat ini, sehingga dengan demikian dapat menjadi indikator pembuatan kebijakan selanjutnya mengenai pers.
  2. Bagi pihak pers harus mampu memposisikan diri sebagai salah satu pengawal jalannya demokrasi di Indonesia karena perannya yang strategis.

DAFTAR PUSTAKA

~ Lesmana, Tjipta. (2003) “Kebebasan dan Tanggungjawab Pers Harus Berimbang”. http://www.sinarharapan.com.id

~ Masduki, (2005) Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik UII Press : Yogyakarta, Cet. 2.

~ Imawan, Riswandha. (1998). Membedah Politik Orde Baru. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

~ Abar, Ahmad Zaini. (1994). “Kekecewaan Masyarakat dan Kebebasan Pers”. Jakarta : Prisma LP3ES.

~ B. Bambang Wismabrata, “Rekonstruksi Makna Kebenaran Pers”, (jurnal penelitian IPTEK-KOM, Edisi 12).

Daftar lainnya :

~ Wikrama Iryans Abidin. Politik Hukum Pers.

~ Majalah Tempo, edisi 25 Mei 2003

~ Alex Sobur, Etika Pers

~`http://ayuocit.blogspot.co.id/2013/10/makalah-pers.html

~ http://andhikafrancisco.wordpress.com/2013/06/21/makalah-perbandingan-kebebasan-pers-pada-masa-orde-baru-dan-masa-reformasi-di-indonesia

~ http://shindohjourney.wordpress.com/seputar-kuliah/makalah-sistem-pers-era-orde-baru

~ http://m.kompasiana.com/post/read/496224/2kebebasan-pers-di-indonesia-htm

[1] Lesmana, Tjipta. “Kebebasan dan Tanggungjawab Pers Harus Berimbang”. http://www.sinarharapan.com.id, 8-10-2003, hlm 10

[2] Ibid

[3] Ibid, hlm. 8-10

[4] http://ayuocit.blogspot.co.id/2013/10/makalah-pers.html diambil pada tanggal 9 november 2016

[5] Masduki, Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik (UII Press : Yogyakarta, Cet. 2, 2005) hlm. 8

[6] Ibid

[7] http://m.kompasiana.com/post/read/496224/2kebebasan-pers-di-indonesia-htm diambil tanggal 9 November 2016

[8] Imawan, Riswandha.. Membedah Politik Orde Baru. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 1998). hlm. 13

[9] http://shindohjourney.wordpress.com/seputar-kuliah/makalah-sistem-pers-era-orde-baru diambil pada tanggal 8 November 2016

[10] Abar, Ahmad Zaini.. “Kekecewaan Masyarakat dan Kebebasan Pers”. (Jakarta : Prisma LP3ES 1994). Hlm 3

[11] http://andhikafrancisco.wordpress.com/2013/06/21/makalah-perbandingan-kebebasan-pers-pada-masa-orde-baru-dan-masa-reformasi-di-indonesia diambil pada tangga l 9 November 2016

[12] B. Bambang Wismabrata, “Rekonstruksi Makna Kebenaran Pers”, (jurnal penelitian IPTEK-KOM, Edisi 12). Hlm, 31.

[13] Wikrama Iryans Abidin. Politik Hukum Pers, hlm. 95.

[14] Majalah Tempo, edisi 25 Mei 2003, hlm 94.

[15] Alex Sobur, Etika Pers, hlm. 388

LIMA NILAI YANG HARUS DITERAPKAN PUBLIK RELATIONS TERHADADAP LEMBAGA DALAM MEMBANGUN CITRA

Lembaga atau organisasi sangat memerlukan pandangan serta persepsi yang baik (citra positif dari publik) yang berefek kepada lembaga itu sendiri. Perusahaan mencita-citakan citra positif dari khayak, maka itulah sebabnya perusahaan rela membayar mahal untuk mendapatkan sentuhan kinerja Humas (publik relations) yang mampu bertugas menjembatani, saling mementingkan, dan terciptanya hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan yang berkaitan demi membangun saling pengertian.

Semua Perusahaan tentunya pasti mengalami yang namanya masalah atau sering disebut dengan krisis, apabila sebuah perusahaan yang sedang mengalami hal tersebut, tentunya dengan berbagai persoalan maupun faktor yang melatar belakanginya, baik itu krisis keungan, gagal produk, pencemaran nama perusahaan dan lain sebagainya. Tentu pada situasi yang demikian akan menguras tenaga bagi seorang PR, namun sebelum hal-hal krisis itu terjadi sebenarnya ada Lima nilai yang harus ditanam didalam perusahaan, supaya tetap ada rasa empati dari orang-orang yang berkaitan dengan perusahaan pada situasi sebelum krisis dan saat krisis sedang terjadi.

Lima nilai yang harus ditanam oleh seorang PR didalam sebuah lembaga baik perusahaan maupun organisasi adalah yang pertama, Sikap Peduli. Sikap ini merupakan salah satu unsur yang harus terjalin didalam internal lembaga, hal tersebut memang susah diterapkan karena didalam lembaga terdapat batasan struktural, maksud disini sikap kepedulian antara atasan dengan bawahan (proses hubungan vertikal) terhalang, namun bila ditarapkan dampaknya sungguh luar biasa. Sebagai kasus seorang atasan dituntut tahu segala hal tentang karyawannya, bahkan hal terkecil sekalipun. Salah satu contohnya mengetahui hari ulang tahun karyawan dan mengucapkan selamat dan memberikan bingkisan, maka hal tersebut akan membuat hubungan lembaga layaknya hubungan kekeluargaan yang saling pengertian dalam setiap situasi.

Menguasi Bidang, seorang PR yang baik dan memiliki mutu tentunya harus trampil dengan skill dan kemampuan diberbagai sektor perusahaan, tidak hanya dituntut melakukan kegiatan humas, akan tetapi PR tahu apa yang sedang dibutuhkan perusahaan dan mampu menyelesaikannya dengan tuntas.

Terpercaya, jujur dalam bekerja, mengabdi dan mematuhi setiap tindakan yang hendak dilakukan harus mendapat ketentuan dan kebijakan dari pemimpin lembaga. Sebagai contoh kasus seorang PR mendapat keluhan dari masyarakat sekitar mengenai hak mereka belum terpenuhi, kemudian PR mendengar setiap keluhan dan menjelaskan dengan baik serta membuat masyarakat mengerti. Untuk tahap selanjutnya Seorang PR tentunya menyiapkan saran yang bagus dan solusi terbaik sesuai dengan fakta yang terjadi, kemudian menyampaikan kepada pemimpin. Setelah terselasaikan dengan baik, keluhan dipandangan masyarakat sekitar tersampaikan (amanah), krisis perusahaan yang harusnya terjadi sudah teratasi dengan baik.

Mampu bersaing, diperlukan ide dan gagasan pemikiran dalam meningkatkan daya saing. PR juga dituntut memberikan solusi dan ide-ide dalam meningkatkan kepercayaan orang-orang yang terkait dengan perusahaan. Seorang PR harus mengeluarkan pendapat untuk perusahaan supaya perusahaan mengalami peningkatan dalam persaingan produk dan ketertarikan khalayak terhadap perusahaan.

Kepuasan pelanggan, menjadi salah satu point penting yang harus dilakukan dan diterapkan kepada setiap karyawan dalam bersikap baik kepada pelanggan dan menangani masalah keluhan dan ketidakpuasan pelanggan, untuk mempertahankan tingkat penjualan dan menarik atau menambah pelanggan. Sebagai contoh kasus, seorang pelanggan yang mengeluhkan mengenai produk yang mungkin memancing kondisi marah maka PR mengajarkan kepada karyawan supaya melayani dengan hati yang tenang dan ramah dalam menanggapi hal tersebut. Memuliakan pelanggan tersebut dengan menanggapi dengan sesegera mungkin keluhan yang di keluhinya, apabila unsur kesalahannya berasal dari perusahaan maka pihak perusahaan akan mengganti rugi atas kesalahan tersebut, dan memberikan produk yang baru dengan percuma.

Lima nilai tersebut menjadi kunci dasar seorang PR yang sukses, tugas seorang PR memang berat, menuntut banyak hal yang harus dilakukan dan dikuasi dalam menjalin hubungan antar Lembaga dengan Khalayak yang bersangkutan.

Sumber : Proses perkuliahan dengan Bpk. Yarmen Dinamika

POLING SEBAGAI METODA MENGHIMPUN DAN MEMPENGARUHI OPINI PUBLIK

Metoda sekaligus ekpresi yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan pendapat umum atau opini publik yang kemudian akan dijadikan sebagai sumber berita. Polling merupakan suatu kegiatan survei atau meneliti dengan cara menanyakan kepada masyarakat, apa pendapat atau pandangan mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Cara atau tahapan dalam polling dimulai dengan penentuan topik, tujuan, populasi, metode pengambilan data, teknik pengolah data dan penyajian hasil (publikasi).

Kedudukan polling sangat penting dalam kontek pembentukan opini publik, karena melalui polling (jajak pendapat) peneliti biasanya akan mendapatkan gambaran riil tentang pendapat masyarakat terhadap isu tertentu, termasuk isu politik. Disisi lain pendapat umum merupakan sumber registinasi dalam pengambilan keputusan yang demokratis.

Proses perpollingan yang dilakukan oleh peneliti biasanya mengambil sampel populasi sebanyak 25% atau seperempat dari banyak penduduk yang mewakili, hal tersebut sudah menguatkan data yang didapat dari populasi sebagai sumber data.

Hasil polling yang baik dan dapat dipercaya kebenarannya oleh publik, tentunya dilakukan oleh lembaga yang memiliki peneliti yang perfesional seperti LPI. Proses polling sulit dilakukan oleh wartawan disebabkan keahlian khusus yang tentunya dipahami betul oleh sipeneliti.

Penghimpun data atau dikenal dengan Enumerator merupakan perwakilan pengumpul data yang tidak bisa dilakukan oleh wartawan dengan alasan tertentu dalam mendapatkan data, seperti misalnya dalam kasus pemilu serentak yang akan selenggarakan 2017 mendatang, akan tetapi hasil polling atau survei  sudah mendapatkan data kandidat dengan suara terbanyak dan hal tersebut tentunya mempengaruhi opini publik, dengan berbagai reaksi.

Dalam penyajian hasil, jajak pendapat publik tentunya sudah mewakili jumlah populasi suatu daerah yang bersangkutan dengan isu yang sedang terjadi. Suara masyarakat menjadi pertimbangan atau pengaruh besar terhadap isu yang terjadi, hal tersebut ada kemungkinan berubah menjadi sebuah opini publik setelah dipublikasikan kepada khalayak umum.

Sumber : Proses Perkuliahan dengan Bpk. Yarmen Dinamika

AKAR MUASAL MEDIA DALAM MENCIPTAKAN OPINI PUBLIK

Sejauh ini opini publik sangat semakin menarik pembahasannya, karena dapat mempengaruhi khalayak. kebutuhan publik untuk mendapatkan informasi bahkan menjadi sebuah Hak bagi setiap golongan atau secawan kelompok, baik itu kecil maupun besar untuk mengkomsumsi informasi.

Terbukti, bahwa opini publik yang terjadi sejauh ini (modern), dengan sangat mudah dan cepat mampu mempengaruhi jumlah anggota terbesar diseluruh belahan dunia, dengan hanya butuh waktu per-sekian detik untuk menghadirkan informasi penting. baik itu benar  maupun kabar hoax saja, yang menjadi sebuah perbincangan hangat dalam waktu yang sangat singkat maupun berkelanjutan, sehingga muncul berita yang baru untuk menghilangkan berita yang sebelumnya. hal ini sama seperti cuaca yang kadang mendung dan kemudian digantikan oleh cuaca yang cerah, dan seterusnya akan seperti itu sesuai dengan berjalannya waktu.

Dibalik pesatnya Perkembangan teknologi dizaman modern ini, ide gila yang menghadirkan media, (Alat perantara, ataupun Penyaluran Informasi) pertama sekali diciptakan oleh seorang raja yang memimpin kerajaan yunani saat peradapan masih kuno, beliau bernama Julius Ceasar.

Pada awalnya sang raja menugaskan empat orang ke setiap daerah yang masing-masing dari mereka ditugaskan untuk mencari informasi ke arah mata angin (utara,  timur, barat, dan selatan). Keempat orang tersebut di era modern dikenal sebagai wartawan, yang bertugas mencatat setiap kejadian yang terjadi pada setiap daerah untuk dibawa ke istana,. Setelah beberapa informasi terkumpulkan, barulah kemudian ditulis untuk segera di tempelkan pada papan yang disebut dengan (Acta De Journa) yang tersebar di alun-alun kota kerajaan.

Tidak butuh waktu yang lama, ceasar ternyata berhasil menyedot perhatian rakyatnya. Sang raja yang mengerti betul betapa penting para rakyat untuk mendapati informasi yang menjadi opini besar pada masa tersebut, berbagai macam tanggapan dan pembicaan dikalangan masyarakat yang diperintahnya.

 Peistiwa ini seakan menjadi sebuah Hak, maka ceasar berinisiatif untuk menambah wartawannya dan kemudian mengisi setiap lini daerah yang masih kosong untuk mendapatkan berita (hal tersebut juga menjadi cikal bakal terciptanya profesi kewartawanan atau jurnalis).,

Banyak dari pemimpin-pemimpin lain bahkan mengherankan apa yang dilakukan oleh ceasar tersebut, menurut mereka yang dilakukannya hanya menghabiskan banyak hal, terutama dari segi waktu, tenaga dan finensial sehingga menimbulkan kerugian besar. Seiring berjalannya waktu, barulah mereka menyadari dari apa yang dilakukan oleh ceasar tersebut, bahkan sangat gemilang, dimana pihak kerajaan mampu mempengaruhi publiknya dengan media dan informasi-informasi kerajaan yang turut dicantumkan dalam Acta De Journa.

Dari apa yang dilakukan oleh sang raja, dapat dipetik pelajaran, bahwasanya kebutuhan informasi merupakan sebuah hak yang harus diterima oleh publik, supaya mereka dapat dengan mudah mengetahui apa yang mereka tidak ketahui, dapat dengan mudah mengarahkan publik untuk kepentingan atau kebijakan yang dibuat oleh Pusat Kerajaan maupun pusat pemerintahan melalui media.

Penulis: Ade Putra Setiawansyah

Sumber : Proses Perkuliahan dengan Bpk. Yarmen Dinamika

 

Pengertian, tujuan, objek kajian dan Kedudukan Filsafat ilmu

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Berbedanya cara dalam mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi, cara menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri[1].

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa itu pengertian, tujuan, objek kajian filsafat ilmu? dan
  3. Bagaimana kedudukan filsafat ilmu?
  4. Tujuan
  5. Untuk mengetahui Apa itu pengertian, tujuan, objek kajian filsafat ilmu.
  6. Untuk mengetahui Bagaimana kedudukan Filsafat ilmu.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti, objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengidera) yang membuahkan pengetahuan?[2]

Filsafat termasuk ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya, karena itu titik tolak untuk memahami dan mengerti filsafat adalah meninjau dari segi etimologis dan terminologis. Tinjauan secara etimologi dan terminologi adalah membahas pengertian secara bahasa dan istilah atau kata dari segi asal usul dan pendapat dari kata itu. Oleh karena itu pengertian filsafat ilmu dapat ditinjau dari dua segi yakni secara etimologi dan terminologi. Akan tetapi sebelum membahas masalah pengertian filsafat ilmu akan lebih baiknya kita mengetahui apa itu pengertian dari filsafat dan ilmu.

  1. Pengertian Filsafat

Filsafat secara etimologis berasal dari bahasa Yunani Philosophia, Philos artinya suka, cinta atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pyhthagoras[3].

Istilah filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki pada kata falsafah dari bahasa Arab, philosopy dari bahasa Inggris, philosophia dari bahasa Latin dan philosophie dari bahasa Jerman, Belanda dan Perancis. Semua istilah itu bersumber pada istilah Yunani philosophia, yaitu philein berarti mencintai, sedangkan philos berarti teman. Selanjutnya, istilah sophos berarti bijaksana, sedangkan sophia berarti kebijaksanaan[4].

Secara terminologi pengertian filsafat menurut para filsuf sangat beragam, Al-Farabi[5] mengartikan filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (ilmu itu ada, dengan kehidupan yang ada). Ibnu Rusyd mengartikan filsafat sebagai ilmu yang perlu dikaji oleh manusia karena dia dikaruniai akal. Francis Bacon filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya. Immanuel Kant filsafat sebagai ilmu yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya mencakup masalah epistimologi yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui. Aristoteles mengartikan filsafat sebagai ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Adapun Rene Descartes mengartikan filsafat sebagai kumpulan segala pengetahuan, di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.[6]

Robert Ackermann Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingn terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam kerangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian bukan suatu cabang yang bebas dari praktek ilmiah senyatanya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menelaah segala sesuatu yang ada secara mendasar dan mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukannya mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, akan tetapi mencari hakikat dari fenomena tersebut dengan kata lain filsafat adalah pangkal dari segala ilmu yang ada dalam pemikiran manusia.

  1. Pengertian Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘alima, ya’lamu, ilman dengan wazan fa’ila, yaf’alu, fa’lan yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Dalam bahasa Inggris ilmu disebut science, dari bahasa latin scientia-scire (mengetahui), dan dalam bahasa Yunani adalah episteme.

Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.[7]

Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakekat ilmu itu sebenarnya. Seperti kata pribahasa Prancis “mengerti berarti memaafkan segalanya”. Tujuan utama kegiatan keilmuan adalam mencari pengetahuan yang bersifat umum dalam bentuk teori, hukum, kaidah, asas dan sebagainya.[8]

Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli di antaranya adalah:

  1. Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mendefinisikan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik.
  2. Ashley Montagu, Guru Besar Antropolog di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
  3. Afanasyef, seorang pemikir marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran.

Dari beberapa pendapat tentang ilmu menurut para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif.

  1. Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu ialah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain, filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan. Karena, apabila para penyelenggara melakukan menyelidikan terhadap objek-objek serta masalah-masalah yang berjenis khusus dari masing-masing ilmu itu sendiri, maka orangpun dapat melakukan penyelidikan lanjutan terhadap kegiatan-kegiatan ilmiah tersebut. Dengan mengalihkan perhatian dari objek-objek yang sebenarnya dari penyelidikan ilmiah kepada proses penyelidikannya sendiri, maka muncullah suatu matra baru.[9]

Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua yaitu filsafat ilmu dalam arti luas dan sempit, filsafat ilmu dalam arti luas yaitu menampung permasalahan yang menyangkut hubungan luar dari kegiatan ilmiah, sedangkan dalam arti sempit yaitu menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan dalam yang terdapat di dalam ilmu. Banyak pendapat yang memiliki makna serta penekanan yang berbeda tentang filsafat ilmu. Menurut Prof. Dr. Conny R. Semiawan, dkk mengartikan filsafat ilmu dalam empat titik pandang yaitu mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu, mengasimilasi filsafat ilmu dengan sosiologi, suatu sistem yang di dalamnya konsep dan teori tentang ilmu dianalisis dan diklasifikasi, dan suatu patokat tingkat kedua yang dapat dirumuskan antara doing science dan thinking tentang bagaimana ilmu harus dilakukan.

Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli di antaranya adalah:[10]

  1. Robert Akermann, filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pedapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan.
  2. Leswi White Beck, filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
  3. Cornelius Benjamin, filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang intelektual.
  4. May Brodbeck, filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
  5. The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.

Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu dapat dirangkum menjadi tiga yaitu:

  1. Suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu,
  2. Upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep mengenai ilmu dan upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan, dan kepragmatisan, dan
  3. Studi gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam yang ditunjukkan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu.
  4. Tujuan Filsafat Ilmu

Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu maka filsafat ilmu sangat diperlukan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, kita akan menyadari keterbatasan diri dan tidak terperangkap ke dalam sikap oragansi intelektual. Hal yang lebih diperlukan adalah sikap keterbukaan kita, sehingga mereka dapat saling menyapa dan mengarahkan seluruh potensi keilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan bersama.

Fisafat ilmu sebagai cabang khusus yang membicarakan sejarah perkembangan ilmu bertujuan: Pertama, filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Kedua, filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan medote keilmuan. Ketiga, filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan, setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkkan secara logis dan rasional agar dapat dipahami dan digunakan secara umum.[11]

Berdasarkan tujuan filsafat ilmu yang dikemukan oleh Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, maka dapat dikembangkan bahwa tujuan filsafat ilmu mengkaji dan mencari fakta-fakta terhadap pemikiran secara ilmiah dan rasional.

  1. Objek Kajian Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang-bidang ilmu lainnya juga memiliki dua macam objek yaitu objek material dan objek formal.

  1. Objek Material Filsafat ilmu

Objek Material filsafat ilmu yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.

Menurut Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatu yang ada itu di bagi dua, yaitu :

  1. Ada yang bersifat umum, yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya.
  2. Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia dan alam.
  3. Objek Formal Filsafat Ilmu

Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Setiap ilmu pasti berbeda dalam objek formalnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan yang artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatiannya terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan. Seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

  1. kedudukan Filsafat ilmu

Filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan (mater scientiarium) yang melahirkan banyak ilmu pengetahuan yang membahas sesuai dengan apa yang telah dikaji dan diteliti didalamnya. Dalam hal metode dan obyek studinya, Filsafat berbeda dengan Ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan menyelidiki masalah dari satu bidang khusus saja, dengan selalu menggunakan metode observasi dan eksperimen dari fakta-fakta yang dapat diamati. Sementara filsafat  berpikir sampai di belakang dengan fakta-fakta yang sangat nampak.

             Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafat lah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan. Memang lambat laun beberapa ilmu-ilmu pengetahuan itu akan melepaskan diri dari filsafat akan tetapi tidaklah berarti ilmu itu sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari filsafat. Filsafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk dijadikan pegangan manusia[12].

           Peran filsafat sangat penting artinya bagi perkembangan dan  penyempurnaan ilmu pengetahuan. Meletakkan kerangka dasar orientasi dan visi penyelidikan ilmiah, dan menyediakan landasan-landasan ontologisme, epistemologis, dan aksiologis ilmu pada umumnya. Filsafat ilmu melakukan kritik terhadap asumsi dan postulat ilmiah serta analisis-kritis tentang istilah-istilah teknis yang berlaku dalam dunia keilmuan. Filsafat ilmu juga menjadi pengkritik yang sangat konstruktif terhadap sistem kerja dan susunan ilmu[13].

         Pada dasarnya filsafat  bertugas memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori subtantif. Selanjutnya secara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoprasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.

          Pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences)[14].

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Filsafat Ilmu adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat sangat dibutuhkan dalam membuktikan suatu aksiden atau fenomena dan Subtansi karena dengan filsafat lah bisa terbukti sesuatu itu ada atau mungkin ada, karena dengan akal lah bisa membuktikan suatu substansi dan substansi itu terbentuknya dari filsafat. Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah.  Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab kecenderungan kita menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang diperlukan disini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai dengan struktur ilmu pengetahuan bukan sebaliknya.

Peranan filsafat dalam ilmu pengetahuan adalah filsafat memberi penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia guna mencapai kebenaran tapi filsafat tidak ikut campur dalam ilmu-ilmu tersebut dimana filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.

  1. Saran

Pemakalah menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan.Oleh karena itu, pemakalah mengharapkan pembaca dapat menyampaikan kritik dan juga sarannya terhadap hasil penulisan makalah kami.

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin Salam. (2005). Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara

Dani Vardiansyah.(2008). Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Jakarta: Indeks

Suriasumantri S, Jujun. (2005). Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan

Rizal Mustansyir dan Misnal Munir. (2010). Filsafat Ilmu. Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset

Asmoro Achmadi. (2010). Filsafat Umum, Jakarta, Rajawali Pers

Muzairi. (2009).  Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras

Peursen, Vav, C.A. (2008).  Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya. Dikutip dari buku Arief Sidharta. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu?, Bandung: Pustaka Sutra

Susanto, A. (2011). Filsafat Ilmu; Suatu Kajian dalam Demensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologi. Jakarta: Bumi Aksara

Delfgaauw, Bernard.(1992). Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.

[1] Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Jakarta: Indeks, 2008). hlm. 20

[2] Jujun S. Suriasumantri,  Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer (Jakarta. Sinar Harapan. 2005) hlm. 33

[3] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu. (Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset, 2010), hlm. 2

[4] Muzairi, Filsafat Umum. (Yogyakarta, 2009), hlm. 6

[5] Al-Farabi (870-950), nama lengkap Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan. Sebutan “Al-Farabi” diambil dari nama kota di mana ia dilahirkan, yaitu kota Farab.

[6] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta, Rajawali Pers, 2010), hlm 2-3

[7]C.A. Van Peursen: Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya. Dikutip dari buku Arief Sidharta. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu?, (Bandung: Pustaka Sutra, 2008). hlm 7-11

[8] Jujun S. Suriasumantri,  Ilmu dalam Perspektif; Sebuah Kumpulan dan karangan Tentang Hakekat Ilmu. (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm. 19

[9] Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta, Tiara Wacana Yogya, 2003), hlm. 1

[10] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu. hal. 49

[11] ibid. hlm. 52

[12] Delfgaauw, Bernar,. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1992), hlm 123

[13] Ibid, 133

[14] Ibid, 140

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KOMUNIKASI PERSUASIF

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kehidupan sehari-hari setiap orang tentu dipengaruhi oleh komunikasi diri sendiri dengan orang lain, bahkan oleh pesan yang berasal dari orang yang tidak kita kenal. Karena komunikasi merupakan salah satu hal yang sangat kompleks, dan oleh sebab itu banyak para ahli yang mengatakan bahawa sulit untuk didefinisikan. Sementara itu, menurut Everett M. Rogers yang dikutip oleh Suranto, bahwa komunikasi ialah proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya[1].

Komunikasi dapat ditentukan berhasil atau tidaknya tergantung bagaimana komunikator dapat mempengaruhi komunikan, sehingga komunikan dapat bersikap dan perilaku atau bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Namun, permasalahannya adalah komunikator sangat perlu mengetahui pesan, dan saluran yang bagaimana yang dapat mengubah sikap dan perilaku komunikan.

Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal adanya komunikasi persuasif, yaitu komunikasi yang bersifat mempengaruhi audience atau komunikan, sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Menurut K. Andeerson  komunikasi persuasif didefinisikan sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui transmisi beberapa pesan[2].

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa itu Pengertian komunikasi persuasif ?
  3. Bagaimana yang dimaksud Ruang lingkup komunikasi persuasif ?
  4. Tujuan
  5. Untuk Mengetahui Pengertian dari komunikasi persuasif.
  6. Untuk Mengetahui Ruang Lingkup Komunikasi Persuasif

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian komunikasi persuasif

1.      Pengertian Komunikasi

Edward Depari mengemukakan pendapatnya bahwa komunikasi adalah penyampaian gagasan, harapan dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan. Kemudian hal ini ditegaskan oleh Everett M. Rogers yang dikutip oleh Suranto bahwa komunikasi ialah proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya[3].

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian suatu informasi, baik berupa pesan, simbol, ide atau gagasan yang dilakukan oleh komunikator atau pengirim pesan kepada komunikan atau penerima pesan.

Dari pengertian komunikasi yang telah diuraikan di atas, terdapat beberapa unsur yang menjadi prasyarat terjadinya suatu komunikasi.

  • Sumber (Source)

Sumber dasar yang digunakan dalam rangka penyampaian pesan, yang digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa orang, lembaga, buku dan sejenisnya.

  • Komunikator

Komunikator dapat berupa individu yang sedang berbicara, menulis, kelompok orang, organisasi komunikasi seperti radio, surat kabar dan lain sebagainya. Dalam penyampaian pesan terkadang komunikator dapat menjadi komunikan dan begitu pula sebagainya.

  • Komunikan

Komunikan atau penerima pesan dapat digolongkan dalam 3 jenis yaitu personal, kelompok dan massa.

  • Pesan

Pesan adalah keseluruhan dari pada apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan seharusnya mempunyai inti pesan (tema) sebagai perintah di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan.

  • Saluran (Channel) atau media

Saluran komunikasi selalu menyampaikan pesan yang dapat diterima melalui panca indera atau menggunakan media.

  • Hasil (Effect)

Effect adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yaitu sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak dengan yang kita inginkan. Jadi apabila sikap atau tingkah laku orang lain tersebut sesuai dengan keinginan kita, berarti komunikasi dapat dikatakan berhasil demikian pula sebaliknya.

Dari unsur-unsur komunikasi di atas, dapat dikatakan berlangsungnya proses komunikasi yang dilakukan oleh komunikan dan komunikator, komunikator menyampaikan pesan atau keinginan kepada komunikan yang mempengaruhi komunikan sehingga komunikan menyampaikan tanggapan atau feedback. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam proses komunikasi terdapat unsur-unsur yang mendukung terjadinya proses komunikasi antara lain yaitu sumber, komunikator, komunikan, pesan, saluran dan hasil.

2.      Pengertian Persuasi

Persuasi adalah proses komunikasi yang kompleks ketika individu atau kelompok mengungkapkan  pesan (sengaja atau tidak sengaja) melalui cara-cara verbal dan non verbal untuk memperoleh respons tertentu dari individu atau kelompok lain[4].

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa persuasi merupakan usaha untuk mengubah sikap melalui penggunaan pesan, berfokus terutama pada karakteristik komunikator dan komunikan.

Persuasi dapat didefinisikan sebagai sebuah proses yang mengubah sikap, opini, dan perilaku. Karena persuasi merupakan suatu proses, maka persuasi akan berhasil jika dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan seluruh komponen komunikasi mulai dari komunikator, pesan, saluran, hingga komunikan. Setiap bagian yang ikut andil di dalamnya merupakan bagian yang saling terkait dan tidak dapat dihilangkan salah satunya. Pesan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam proses persuasi, karena untuk membuat komunikan terpersuasi dengan baik, komunikan harus dapat memahami dengan baik mengenai pesan yang disampaikan persuader atau komunikator. Dengan kata lain, tingkat pengetahuan komunikan berperan sebagai kontrol atas komunikasi persuasi.

3.      Pengertian Komunikasi Persuasif

Widjaja dalam bukunya mengungkapkan pengertian komunikasi persuasif sebagai berikut: Komunikasi persuasif berasal dari istilah persuation (Inggris). Sedangkan istilah persuasion itu sendiri diturunkan dari bahasa Latin “persuasio”, kata kerjanya adalah to persuade, yang dapat diartikan sebagai membujuk, merayu, meyakinkan dan sebagainya[5].

Menurut Deddy Mulyana, komunikasi persuasif adalah suatu proses komunikasi dimana terdapat usaha untuk meyakinkan orang lain agar publiknya berbuat dan bertingkah laku seperti yang diharapkan komunikator dengan cara membujuk tanpa memaksanya. Sedangkan menurut K. Andeerson, komunikasi persuasif didefinisikan sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui transmisi beberapa pesan[6].

Uraian penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang melalui penggunaan pesan sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.

Pada dasarnya komunikasi persuasi bertujuan menguatkan atau mengubah sikap dan perilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat, dan himbauan motivasional harus bersifat memperkuat tujuan persuasifnya. Kita perlu memahami kemampuan melakukan kominikasi persuasif dengan membayangkan bagaimana hidup kita tanpa kemampuan untuk mempanguri atau membujuk orang lain.

Dalam buku Cangara terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keefektivan komunikasi persuasif, yaitu sebagai berikut[7].

  • Kejelasan tujuan

Tujuan komunikasi persuasif adalah untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku sasaran persuasi atau komunikan. Apabila bertujuan untuk mengubah sikap maka persuader atau komunikan, maka proses persuasi harus berkaitan dengan aspek afektif. Jika akan bertujuan mengubah pendapat sasaran persuasi atau komunikan, maka proses persuasi harus berkaitan dengan aspek kognitif. Sedangkan mengubah perilaku sasaran persuasi atau komunikan, maka proses persuasi harus berkaitan dengan aspek motorik.

Pembicaraan persuasif mengetengahkan pembicaraan yang sifatnya memperkuat, memberikan ilustrasi, dan menyodorkan informasi kepada khalayak. Akan tetapi tujuan pokoknya adalah menguatkan atau mengubah sikap dan perilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat, dan himbauan motivasional harus bersifat memperkuat tujuan persuasifnya.

  • Memikirkan secara cermat orang yang dihadapi

Sasaran persuasi atau komunikan memiliki berbagai keragaman yang cukup kompleks. Keragaman tersebut dapat dilihat dari karakteristik demografis, jenis kelamin, level pekerjaan, suku bangsa, hingga gaya hidup. Sehingga, sebelum melakukan komunikasi persuasif sebaiknya persuader mempelajari dan menelusuri aspek-aspek keragaman sasaran persuasi terlebih dahulu. Dengan demikian persuader dapat dengan mudah menyampaikan pesan persuasi dan menghadapi atau mengatasi berbagai macam respon yang diberikan oleh sasaran persuader.

  • Memilih strategi komunikasi yang tepat

Strategi komunikasi persuasif merupakan perpaduan antara perencanaan komunikasi persuasif dengan manajemen komunikasi. Hal yang perlu diperhatikan menetukan strategi seperti siapa sasaran persuasi, tempat dan waktu pelaksanaan komunikasi persuasi, pesan apa yang harus disampaikan, hingga mengapa pesan harus disampaikan.

  1. Ruang lingkup komunikasi Persuasif

Ruang lingkup kajian ilmu komunikasi persuasif meliputi sumber, pesan, saluran/media, penerima, efek, umpan balik, dan konteks situasional. Pendekatan yang digunakan dalam komunikasi persuasif adalah pendekatan psikologis. Tiga komponen utama komunikasi persuasif adalah control function, consumer protection function, dan knowledge function. tiga komponen tersebut adalah:

  1. Kognitif – perilaku dimana individu mencapai tingkat “tahu” pada objek yang diperkenalkan.
  2. Afektif – perilaku dimana individu mempunyai kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek.
  3. Konatif – perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu melakukan sesuatu (perbuatan) terhadap objek.

 

Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya memengaruhi perilaku dan tindakan mereka terhadap sesuatu. mengubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka. Walaupun ada kaitan antara kognitif, afektif, dan konatif – keterkaitan ini tidak selalu berlaku lurus atau langsung[8].

Contoh:

“Budi tahu/ percaya (kognitif) bahwa mobil Mercedes-Benz itu mobil yang bagus. Budi juga senang (afektif) melihat bentuk mobil tersebut saat melenggang di jalan. Tetapi Budi tidak akan membeli mobil Mercedes-Benz (konatif), karena ia tidak punya uang[9].”

Ruang lingkup Persuasif meliputi suatu teknik mempengaruhi manusia dengan memanfaatkan/menggunakan data dan fakta psikologis maupun sosiologis dari komunikan yang hendak dipengaruhi[10].

Komunikator atau sumber adalah orang-orang yang akan mengkomunikasikan suatu pesan kepada orang lain. Agar komunikasi yang dilakukan oleh komunikator menjadi persuasif, maka komunikator harus mempunyai kredibilitas yang tinggi. Yang dimaksud dengan kredibel disini adalah komunikator yang mempunyai pengetahuan, terutama tentang apa yang disampaikannya. Misalnya, ketika seorang komunikator menjelaskan kepada komunikannya, dia harus menguasai apa yang akan disampaikannya. Apalagi pada saat audience atau komunikan adalah masyarakat yang memiliki pendidikan yang tinggi.

Komunikasi persuasif dikatakan gagal, ketika mengikuti sosialisasi pada seminar di suatu perguruan tinggi yang dimana audiencenya adalah mahasiswa dan masyarakat umum yang mempunyai pendidikan dan pengalaman yang jauh lebih tinggi dari komunikator. Seandainya pada saat itu para komunikator yang hadir kurang menguasai program yang dibawa, tentunya masyarakat tidak akan puas, bahkan mungkin tidak akan berpengaruh pada perubahan sikap yang diharapkan. Ketidak-kredibelan komunikator juga sering disampaikan oleh masyarakat sendiri, dengan cara membandingkan antara fasilitator yang satu dengan fasilitator lainnya. Kemudian trustworthiness (dapat dipercaya) juga sangat penting bagi komunikator supaya komunikasi yang dilakukannya menjadi persuasif. Ketika seorang komunikator yang sudah tidak dipercaya oleh komunikan, apapun yang disampaikannya tidak akan didengar oleh komunikannya.

Pesan adalah hal-hal yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima, yang bertujuan agar komunikan melakukan hal-hal yang disampaikan dalam pesan tersebut.Sama halnya dengan sumber atau komunikator, pesan juga sangat berpengaruh terhadap persuasif tidaknya komunikasi yang kita lakukan.

Pesan-pesan yang disampaikan oleh fasilitator harus sederhana dan mudah dimengerti.Artinya, fasilitator harus menyesuaikan isi pesan yang disampaikan dengan khalayak sasarannya/masyarakat.Informasi yang diberikan harus disesuaikan dengan kebudayaan dan kepercayaan kelompok sasaran.Yang paling mudah kita lihat adalah dari segi bahasa.Ketika masyarakat sasaran kita adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah, maka bahasa yang dipakai harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan mereka.

Dalam mengembangkan pesan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.Di antaranya, lugas.Artinya, pesan tidak bertele-tele dan dilakukan pengulangan kata-kata tertentu yang dianggap perlu.Konsisten, artinya semua pesan harus terkait dengan tema yang akan disampaikan dan saling mendukung antara satu pesan dengan pesan lainnya. Nada dan daya tarik, ini berkaitan dengan style komunikator tadi. Ketika komunikator menyampaikan pesan sedih, tentu disesuaikan dengan nada suaranya dan lain sebagainya.Bertanggungjawab, dalam hal ini sumber pesan yang dapat dipercaya akan berpengaruh pada diterima atau tidaknya pesan yang disampaikan.

Saluran adalah media atau sarana yang digunakan supaya pesan dapat disampaikan oleh sumber kepada si penerima.Supaya komunikasi bisa persuasif, maka media atau saluran yang digunakan harus tepat.Saluran atau media harus mempertimbangkan karakteristik kelompok sasaran, baik budaya, bahasa, kebiasaan, maupun tingkat pendidikan, dan lain-lain.Mengenali siapa yang ingin kita jangkau dapat membantu kita dalam mengembangkan pesan yang sesuai. Kalau dihubungkan dengan social mapping, maka pemetaan budaya sangat berarti disini..

Penerima adalah orang-orang yang menerima pesan dari komunikator, yang biasa disebut dengan komunikan.Dalam berkomunikasi, khalayak sasaran/komunikan juga perlu menjadi perhatian. Bagaimana karakteristik kelompok sasaran, baik budaya, bahasa, kebiasaan, maupun tingkat pendidikan, dan lain-lain, sangat dibutuhkan dalam memformulasikan pesan yang akan disampaikan. Ketika kita berkomunikasi dengan masyarakat kelas bawah, maka bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan masyarakat, jangan sampai kita menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti oleh masyarakat, seperti transparansi, akuntabilitas, fleksibel, dan sebagainya.Sederhanakanlah bahasa sesuai dengan pemahaman masyarakat

BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan

Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang melalui penggunaan pesan sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.

Pada dasarnya komunikasi persuasif bertujuan menguatkan atau mengubah sikap dan perilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat, dan himbauan motivasional harus bersifat memperkuat tujuan persuasifnya

Saran

Pemakalah menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan.Oleh karena itu, pemakalah mengharapkan pembaca dapat menyampaikan kritik dan juga sarannya terhadap hasil penulisan makalah kami

DAFTAR PUSTAKA

Suranto. A. W. (2005). Komunikasi Perkantoran: Prinsip Komunikasi untuk Meningkatkan Kinerja Perkantoran. Yogyakarta: Media Wacana.

Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Widjaja, H. A. (2010). Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara.

Cangara, H. (2008). Pengantar Ilmu Komunikasi: Edisi Revisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Devito, J. A. (2010). Komunikasi Antarmanusia. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.

 

SUMBER LAINNYA          :

http://dodydanpsikologi.blogspot.co.id/2011/06/persuasi.html

http://aguspetirmulyana.blogspot.co.id/2014/07/memahami-komunikasi-persuasif.html

 

[1]Suranto A.W. Komunikasi Perkantoran: Prinsip Komunikasi untuk Meningkatkan Kinerja Perkantoran. (Yogyakarta: Media Wacana, 2005). hlm 15

[2] Mulyana, D. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005).hlm 115

 

[3] Suranto A.W. Komunikasi Perkantoran: Prinsip Komunikasi untuk Meningkatkan Kinerja Perkantoran. (Yogyakarta: Media Wacana, 2005). hlm 15

[4] Little john, S. W., & Foss, K. A. Teori Komunikasi. (Jakarta: Salemba Humanika, 2009). hlm 12

 

[5] Widjaja, H. AKomunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. (Jakarta: Bumi Aksara, 2010). hlm 66

[6] Mulyana, D. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2005). hlm  115

 

[7] Cangara, H. Pengantar Ilmu Komunikasi: Edisi Revisi. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2008). hlm 217

 

[8] Diakses pada artikel http://dodydanpsikologi.blogspot.co.id/2011/06/persuasi.html pada hari sabtu tanggal 24 september 2016

[9] Diakses pada artikel http://aguspetirmulyana.blogspot.co.id/2014/07/memahami-komunikasi-persuasif.html pada hari sabtu tanggal 24 september

[10] Devito, J. AKomunikasi Antarmanusia. (Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group. 2010) hlm. 387

 

Ijtihad, Ittiba’ dan Taqlid

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap umat Islam yang sudah terkena beban taklif, wajib menjalankan syariat Islam pada setiap aktivitas kehidupannya. Dasar yang menjadi pedoman pelaksanaan tersebut adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Tetapi setiap mukallaf dapat menggali kedua sumber tersebut untuk dijabarkan dalam kegiatan hidupnya, karena melihat kenyataan bahwa manusia ini berbeda tingkat intelektualitasnya dalam setiap bidang dan mengingat sulitnya perangkat yang harus dimiliki oleh seorang penggali hukum (mujtahid). Akibatnya, tidak semua manusia mendapatkan ketentuan hukum dari sumber aslinya, tetapi melalui para mujtahid yang sanggup mengistinbatkan hukum dari sumber aslinya itu.

Orang awam yang tidak mampu menggali hukum Islam sendiri atau belum sampai pada tingkatan sanggup mengistinbatkan sendiri hukum-hukum Islam, maka diperbolehkan bagi mereka mengikuti pendapat-pendapat dari para mujtahid yang dipercayainya. Dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan tentang “Ijtihad, Ittiba, dan Taqlid”, yang meliputi pengertian dan hukum-hukumnya, serta syarat-syarat dan sebab terjadinya.

Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, penyusun akan membahas perihal yang berkaitan dengan:

  1. Apa yang dimaksud dengan Ijtihad, Ittiba’ dan Taqlid ?
  2. Bagaimanakah hukum-hukum dalam berIjtihad, berittiba’ maupun Taqlid ?
  3. Bagaimanakah pendapat ulama mengenai Ijtihad, Ittiba, dan Taqlid ?

Tujuan

Dalam pembuatan makalah ini penulis mempunyai maksud dan tujuan antara lain :

  1. Memberi pemahaman tentang Pengertian Ijtihat, Ittiba’dan Taqlid, serta Perbedaan antara ketiganya dan Hukm pembagiannya.
  2. Untuk bahan diskusi pada mata kuliah Fiqh Ushul Fiqh dan juga untuk memenuhi tugas mata kuliah yang diberikan Dosen Pembimbing.

 

BAB II

PEMBAHASAN

IJTIHAD (اجتهد)

  1. Pengertian Ijtihad

Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu masalah yang tidak secara jelas disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Menurut bahasa, ijtihad artinya bersungguh-sungguh dalam mencurahkan pikiran. Sedangkan, menurut istilah,  ijtihad adalah mencurahkan segenap tenaga dan pikiran secara bersungguh-sungguh untuk menetapkan suatu hukum. Oleh  Secara terminologis, berijtihad berarti mencurahkan segenap kemampuan untuk mencari syariat melalui metode tertentu. Ijtihad dipandang sebagai sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Quran dan hadis, serta turut memegang fungsi penting dalam penetapan hukum Islam. Telah banyak contoh hukum yang dirumuskan dari hasil ijtihad ini. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. ijtihad tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, tetapi hanya orang yang memenuhi syarat yang boleh berijtihad.[1]

Ijtihad adalah suatu  alat untuk  menggali hukum  Islam, dan hukum Islam yang dihasilkan dengan jalan ijtihad statusnya adalah zanni. Zann artinya pengertian yang berat kepada benar, dengan arti kata mengandung kemungkinan salah. Ushul fiqh mendefinisikan ijtihad dengan:

اِسْتِفْرَاغُ الْفَقِيْهِ الْوُسْعَ لِتَحْصِيْلِ ظَنٍّ بِحُكْمٍ شَرْعِيٍّ

“Pencurahan kemampuan secara maksimal yang dilakukan oleh faqih (mujtahid) untuk mendapatkan zann (dugaan kuat) tentang hukum syar’i”[2]

  1. Hukum Berijtihad

Secara umum, hukum berijtihad itu adalah wajib. Artinya, seseorang mujtahid wajib melakukan ijtihad untuk menggali dan merumuskan hukum syara’ dalam hal-hal yang syara’. Namun tidak menetapkannya sebagai suatu kepastian hukum yang harus dipegangi oleh orang lain, karena kebenarannya bersifat fiktif, artinya berkemungkinan hasil ijtihad itu bisa benar dan bisa salah.

Perintah berijtihad ini diungkapakan dalam firman Allah, dalam Q.S. al-H(asyr[59]: 2).

 فَاعْتَبِرُوْا يَا أُوْلِى الْأَبْصَارِ

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki pandangan.

  1. Syarat-Syarat Mujtahid dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

Pertama, persyaratan umum (al-syurut al-‘ammah), yang meliputi:

  1. baligh,
  2. berakal sehat,
  3. kuat daya nalarnya, dan
  4. beriman atau mukmin.

Kedua, persyaratan pokok (al-syurut al-asasiyyah), yaitu syarat-syarat mendasar yang menuntut mujtahid supaya memiliki kecakapan:

  1. mengetahui al-Quran,
  2. memahami sunnah,
  3. memahami maksud-maksud hukum syari’at, dan
  4. mengetahui kaidah-kaidah umum (al-qawa’id al-kulliyyat) hukum Islam.

Ketiga, persyaratan penting (al-syurut al-hammah), yakni beberapa persyaratan yang penting dimiliki mujtahid. Syarat-syarat ini mencakup:

  1. menguasai bahasa Arab,
  2. mengetahui ilmu usul al-fiqh,
  3. mengetahui ilmu mantik atau logika, dan
  4. mengetahui hukum asal suatu perkara (al-bara’ah al-asliyah).

Keempat, persyaratan pelengkap (al-syurut al-takmiliyah) yang mencakup:

  1. tidak ada dalil qat’i bagi masalah yang diijtihadi,
  2. mengetahui tempat-tempat khilafiyyah atau perbedaan pendapat, dan memelihara kesalehan dan ketaqwaan.[3]

Seorang mujtahid setidaknya harus menguasai persoalan yang berkaitan dengan masalah yang ia akan fatwakan dan masalah-masalah lain yang berkaitan. Namun mujtahid tidak dituntut mengetahui masalah-masalah fiqh yang tidak berkaitan dengan pembahasan. Seorang mujtahid mutlak (perorangan) dapat berijtihad pada masalah-masalah yang umum yang di permasalahkan orang banyak, tapi tidak menjadi syarat bagi mereka harus menguasai semua hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah-masalah lain dan mengusainya, karena penguasan hukum seluruhnya merupakan keterbatasan setiap manusia. Seorang mujtahid besar sekelas Imam Malik bin Anas pernah diajukan kepadanya 40 masalah hukum  fiqh, ia mengatakan 36 masalah yang ditanyakan kepadanya, ia jawab “saya tidak tahu” [4]

ITTIBA’ (اَلاِتِّبَاعُ)

  1. Pengertian Ittiba’

Kata ‘’Itibbaa’a’’ berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata kerja atau fi’il “Ittaba’a”, “Yattbiu” ”Ittiba’an”, yang artinya adalah mengikut atau menurut.

Ittiba’ yang dimaksud di sini adalah:

قَبُوْلُ قَوْلِ اْلقَائِلِ وَأَنْتَ تَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ قَالَهُ .

“Menerima perkataan orang lain yang berkata yang berkata, dan kamu mengetahui alasan perkataannya.”

Di samping ada juga yang memberi definisi :

قَبُوْلُ قَوْلِ اْلقَائِلِ بِدَلِيْلٍ رَاجِحٍ .

“menerima perkataan seseorang dengan dalil yang lebih kuat.”

Jika kita gabungkan definisi-definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa, ittiba’ adalah mengambil atau menerima perkataan seorang fakih atau mujtahid, dengan mengetahui alasannya serta tidak terikat pada salah satu mazhab dalam mengambil suatu hukum berdasarkan alasan yang diaagap lebih kuat dengan jalan membanding.

  1. Hukum Ittiba’

Dari pengertian tersebut di atas, jelaslah bahwa yang dinamakan ittiba’ bukanlah mengikuti pendapat ulama tanpa alasan agama. Adapun orang yang mengambil atau mengikuti alasan-alasan, dinamakan “Muttabi”[5]

Hukum ittiba’ adalah Wajib bagi setiap muslim, karena ittiba’ adalah perintah oleh Allah, sebagaimana firmannya:

اِتَّبِعُوْا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيْلاً مَا تَذَكَّرُوْنَ . (الأعرف : ۳)

Ikuti apa yang diturunkan padamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.(QS. Al-A’raf:3)

Dalam ayat tersebut kita diperintah mengikuti perintah-perintah Allah.Kita telah mengikuti bahwa tiap-tiap perintah adalah wajib, dan tidak terdapat dalil yang merubahnya.

Di samping itu juga ada sabda Nabi yang berbunyi:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَ سُنَّةُ الْخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِى ـ (رواه ابو داود)

Wajib atas kamu mengikuti sunnahku dan perjalanan/sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku. (HR.Abu Daud)

Pendapat Ulama Mengenai Ittiba’

Kalangan ushuliyyin mengemukakan bahwa ittiba’ adalah mengikuti atau menerima semua yang diperintahkan atau dilarang atau dibenarkan oleh Rasulullah. Dalam versi lain, ittiba’ diartikan mengikuti pendapat orang lain dengan mengetahui argumentasi pendapat yang diikuti.

Ittiba’ dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya, dan
  2. Ittiba’ kepada selain Allah dan Rasul-Nya.

Ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya hukumnya wajib, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-A’raf [7]: 3

اِتَّبِعُوْا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيْلاً مَا تَذَكَّرُوْنَ . (الأعرف :۳

“Ikuti apa yang diturunkan padamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin.Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran”.

Mengenai ittiba’ kepada para ulama dan mujtahid (selain Allah dan Rasul-Nya) terdapat perbedaan pendapat. Imam Ahmad bin Hanbal hanya membolehkan ittiba’ kepada Rasul. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa boleh ittiba’ kepada ulamayang dikategorikan sebagai waratsatul anbiya’, dengan alasan firman Allah Surah Al-Nahl [16]: 43 yang artinya: Maka bertanyalah kepada orang-orang yang punya ilmu pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

       Yang dimaksud dengan “orang-orang yang punya ilmu pengetahuan” (ahl al-dzikri) dalam ayat itu adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu Alquran dan Hadis serta bukan pengetahuan berdasrkan pengalaman semata. Karena orang-orang seperti yang disebut terakhir dikhawatirkan akan banyak melakukan penyimpangan –penyimpanagn dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran dan Hadis Rasul, bahkan yang terkandung dalam Alquran. Untuk itu, kepada orang-orang yang seperti ini tidak dibenarkan berittiba’ kepadanya.

       Berbeda dengan seorang mujtahid, seorang muttabi’ tidak memenuhi syarat-syarat tertentu untuk berititba’. Bila seseorang tidak sanggup memecahkan persoalan keagamaan dengan sendirinya, ia wajib bertanya kepada seorang mujtahid atau kepada orang-orang yang benar-benar mengetahui Islam. Dengan demikian, diharapkan agar setiap kaum muslimin sekalipun mereka awam dapat mengamalkan ajaran islam dengan penuh keyakinan karena adanya pengertian. Karena suatu ibadah yang dilakukan dengan penuh pengertian dan keyakinan akan menimbulkan kekhusukan dan keikhlasan.

Kemudian, seandainya jawaban yang diterima dari seorang mujtahid atau ulama diragukan kebenarannya, maka muttabi’ yang bersangkutan boleh saja bertanya kepada mujtahid atau ulama lain untuk mendapatkan jawaban yang menimbulkan keyakinannya dalam beramal. Dengan kata lain, ittiba’ tidak harus dilakukan kepada beberapa orang mujtahid ayau ulama. Mungkin dalam satu masalah mengikuti ulama A dan dalam masalah lai mengikuti ulama B.[6]

TAQLID  (اَلتَّقْلِيْدُ)

  1. Pengertian Taqlid

Kata taklid berasal dari bahasa Arab yakni kata kerja “Qallada”, yaqallidu’, “taglidan”, artinya meniru menurut seseorang dan sejenisnya.

Adapun taqlid yang dimaksud dalam istilah ilmu ushul fiqih adalah :

قَبُوْلُ قَوْلِ اْلقَائِلِ وَأَنْتَ لاَ تَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ قَالَهُ .

“Menerima perkataan orang lain yang berkata, dan kamu tidak mengetahui alasan perkataannya itu.”[7]

Ada juga ulama lain memberi definisi, seperti Al-Ghazali, yakni :

قَبُوْلُ قَوْلِ اْلقَائِلِ الغَيْرِ دُوْنَ حُجَّتِهِ .

“Menerima perkataan orang lain yang tidak ada alasannya.”

Selain definisi tersebut, masih banyak lagi definisi yang diberikan oleh para ulama, yang kesemuanya tidak jauh berbeda dengan definisi di atas. Dari semua itu dapat di simpulkan bahwa, taqlid adalah menerima atau mengambil perkataan orang lain yang tidak beralasan dari Al-Qur’an Hadis, Ijma’ dan Qiyas.

Hukum Taqlid

para ulama membagi hukum taqlid menjadi tiga, yaitu:

  1. Haram, yaitu taqlid kepada adat istiadat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, taqlid kepada seseorang yang tidak diketahui kemampuannya, dan taqlid kepada pendapat seseorang sedang ia mengetahui bahwa pendapat orang itu salah.
  2. Boleh, yaitu taqlid kepada mujtahid, dengan syarat bahwa yang bersangkutan selalu berusaha menyelidiki kebenaran masalah yang diikuti. Dengan kata lain, bahwa taqlid seperti ini sifatnya hanya sementara.
  3. Wajib, yaitu taqlid kepada orang yang perkataan, perbuatan dan ketetapannya dijadikan hujjah, yaitu Rasulullah saw.[8]

Syarat-Syarat Taqlid

Tentang syarat-syarat taqlid bisa dilihat dari dua hal, yaitu syarat orang yang bertaqlid dan syarat-syarat yang ditaqlidi.[9] Syarat-syarat itu yakni sebagai berikut :

Syarat-syarat orang yang bertaqlid

Syarat orang yang bertaqlid ialah orang awam atau orang biasa yang tidak mengerti cara-cara mencari hukum syara. Ia boleh mengikuti pendapat orang lain yang lebih mengerti hukum-hukum syara dan mengamalkannya. Adapun orang yang pandai dan sanggup menggali sendiri hukum-hukum syara maka ia harus berijtihad sendiri kalau baginya masih cukup. Namun, kalau waktunya sempit dan dikhawatirkan akan ketinggalan waktu untuk mengerjakannya yang lain (dalam soal-soal ibadah), maka menurut suatu pendapat ia boleh mengikuti pendapat orang pandai lainnya.

Syarat-syarat yang ditaqlid

Syarat yang ditaqlidi ada kalanya adalah hukum yang berhubungan dengan syara. Dalam hukum akal tidak boleh bertaqlid pada orang lain, seperti mengetahui adanya Dzat yang menciptakan alam serta sifat-sifatnya. Begitu juga hukum akal lainnya, karena jalan menetapkan hukum-hukum tersebut ialah akal, dan setiap orang mempunyai akal.

Pendapat Para Ulama Mengenai Taqlid

Muhammad Rasyid Ridha merumuskan definisi taqlid dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat Islam.Taqlid menurut beliau adalah mengikuti pendapat orang yang diianggap terhormat dalam masyarakat dan dipercaya dalam hukum Islam tanpa memperhatikan benar atau salahnya, baik buruknya, serta manfaat mudharatnya pendapat tersebut.

Para ulama ushul fiqh sepakat melarang taqlid dalam tiga bentuk berikut ini:

  1. Semata-mata mengikuti tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist. Contohnya, tradisi nenek moyang tirakatan selama tujuh malam di makam, dengan keyakinan bahwa hal itu akan mengabulkan semua keinginannya, padahal perbuatan tersebut tidak sesuai dengan firman Allah, antara lain dalam surah Al-Ahzab [33] :64 yang artinya:

Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir, dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak mendapat perlindungan dan tidak pula penolong. Di hari itu muka mereka dibolak-balik di dalam appi neraka, mereka berkata: “alangkah baiknya andai kami taat kepada Allah dan Rasul. Dan mereka berkata; “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu menyesatkan kami.”

  1. Mengikuti seseorang atau sesuatu yang tidak diketahuui kemampuan dan keahliannya dan menggandrungi daerahnnya itu melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Hal ini disinggung oleh Allah dalam surah Al-Baqarah [2]: 165-166 yang artinya:

Di antara manusia ada yang mengikuti banyak ikatan selain Allah dan mencintai Allah.Adapun orang-orang yang beriman amatmencintai Allah. Sekiranya orang-orang yang  berbuat zhalim itu-ketika mereka melihat azab (di hari akhirat)- bahwa sesungguhnya kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, maka Allah sangat pedih siksanya. (yaitu) ketika orang-orang yang mereka ikuti berlepas diri dari mereka ketika melihat azab tersebut dan memutuskan segala hubungan.

  1. Mengikuti pendapat seseorang, padahal diketahui bahwa pendapat tersebut salah. Firman Allah dalam surah Al-Taubah [9]: 31 yang artinya:

Mereka menjadika para tokoh agama dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah, dan menuhankan al-Masih anak Maryam, padahal mereka (tahu) hanya disuruh menyembah Tuhan yang satu, Tiada Tuhan selain-Nya. Maha Suci Dia dari segala apa yang mereka sekutukan.

Sehubungan dengan ayat di atas, ‘Adi bin Hatim berkata bahwa ia pernah datang kepada Rasulullah, padahal di lehernya tergantung salib. Lalu Rasulullah berkata kepadanya: “Hai Adi, lemparkanlah salib itu dari lehermu dan jangan kamu pakai lagi.” ‘Ya Rasul kami tidak menjadikan pendeta-pendeta sebagai tuhan.” Lalu Rasul berkata lagi ‘Bukankah kamu tahu bahwa mereka menghalalkan bagimu apa yang diharamkan Allah dan mereka mengharamkan atasmu apa yang dihalalkan Allah, dan kamu ikut pula mengharamkannya? [10]

Ayat dan hadis di atas mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu yang memang sudah jelas salah, tapi karena ingin menghormati seseorang atau fanatik terhadap suatu golongan ataujuga karena mode, lalu diikuti juga.Hal ini sangat dicela oleh Allah SWT.

Akan halnya orang awam yang memang tidak punya kesanggupan berijtihad sama sekali maka jumhur ulama ushuliyyin berpendapat wajibnya bagi setiap orang awam bertanya pada mujtahid. Hal ini didasarkan pada firman Allah surah Al-Nahl [16]: 43 “maka berrtanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahuinya”.

Namun demikian, menurut Al-Dahlawy, taqlid yang dibolehkan adalah taqlid dalam artian mengikuti pendapat orang alim, karena belum ditemukan hukum Allah dan Rasul berkenaan dengan suatu perbuatan. Namun, seseorang yang bertaqlid tersebut harus terus belajar mendalami pengetahuan hukum islam. Bila pada suatu saat orang yang bersangkutan menemukan dalil bahwa apa yang ditaqlidinya selama ini bertentangan dengan syariat Allah, ia harus meninggalkan pendapat yang ditaqlidinya tadi.

Pesan Para Ulama mengenai Taqlid

Imam Abu Hanifah berkata :

“Jika perkataan saya menyalahi Kitab Allah dan hadis Rasul, maka tinggalkanlah perkataan saya ini. Seseorang tidak boleh mengambil perkataan saya sebelum mengetahui dari mana saya berkata”.

Imam Syafi’i berkata :

“perumpamaan orang yang mencari ilmu tanpa hujjah (alasan) seperti orang yang yang mencari kayu diwaktu malam. Ia membawa kayu-kayu sedang di dalamnya ada ular yang mengantup, dan ia tidak tahu”.

Ibnu Mas’ud berkata :

“Kamu jangan menaqlidi orang. Kalau ia iman, maka kamu beriman. Kalau ia kafir, maka kamu kafir. Tidak ada tauladan dalam hal-hal buruk”.[11]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pengertian Ijtihad dan ittiba’ serta taqlid di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan  Ijtihad adalah berusaha bersungguh-sungguh  atau  mengarahkan segala kemampuan. Ijtihad berfungsi sebagai penggerak, tanpa ijtihad sumber syari’at Islam itu akan rapuh, itulah sebabnya ijtihad sebagai sumber ketiga yang tidak dapat dipisahkan dari Al-qur’an dan Al-Hadits. Dengan pendekatan istinbath akan diperoleh hukum Islam dari sumber-sumbernya. Usaha ushul fiqih tidak akan berhasil tanpa didukung oleh cara-cara pendekatan istinbath yang benar dan tepat, disamping ditopang oleh pengetahuannya yang memadai tentang sumber-sumber hukum Islam.

Ittiba’ adalah mengambil atau menerima perkataan seorang fakih atau mujtahid, dengan mengetahui alasannya serta tidak terikat pada salah satu mazhab dalam mengambil suatu hukum berdasarkan alasan yang diaagap lebih kuat dengan jalan membanding.

taqlid adalah menerima perkataan orang lain yang berkata, sedangkan si penerima tersebut tidak mengetahui alasan perkataannya itu.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan.Oleh karena itu, penulis mengharapkan pembaca dapat menyampaikan kritik dan juga sarannya terhadap hasil penulisan makalah kami.

DAFTAR PUSTAKA

~       A. Basiq Djalil, Ilmu Ushul Fiqih Satu dan Dua, Edisi pertama, Catakan Ke-1, Jakarta: Kencana, 2010.

~       A. Hanafie, Ushul Fiqh, cetakan Ke-3, Jakarta: Widjaya, 1963.

~       Alaiddin Koto, Ilmu Ushul Fiqh dan Fiqh, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011.

~       M. Suparta dan Djedjen Zainuddin. Fiqih, Semarang: PT Karya Toha Putra, 2006.

~       Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, cet. 4, 2002

~       Khairul Umam dan A. Achyar Aminudin, Ushul Fiqih II, Bandung : Pustaka Setia, cet. 2, 2001

~       Amir Mua’llim dan Yusdani, Ijtihad dan Legislasi Muslim Kontemporer. Yogyakarta: UII Press. 2005

~       Hakim Atang .Abd, dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung : PT Remaja Pesdakarya, 2000

~       Ibrahim Hosen, Fiqh Perbandingan Masalah Perkawinan, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003

[1] Hakim Atang .Abd, dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung : PT Remaja Pesdakarya, 2000), hlm 9

[2] Ibrahim Hosen, Fiqh Perbandingan Masalah Perkawinan, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), hlm. 15

[3] Amir Mua’llim dan Yusdani, Ijtihad dan Legislasi Muslim Kontemporer. (Yogyakarta: UII Press. 2005), hlm. 58.

[4] Saifuddin Abi al-Hasan dan ‘Ali ibn Abi ‘Ali ibn Muhammad, op. cit., hlm. 310

[5] A. Basiq Djalil, Ilmu Ushul Fiqih Satu dan Dua (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 196.

[6] Alaiddin Koto, Ilmu Ushul Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2011), hlm. 129-131

[7] A. Basiq Djalil, Ilmu Ushul Fiqih Satu dan Dua (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 195.

[8] M. Saputra dan Djedjen Zainuddin, Fiqih, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2006), hlm. 109-110.

[9] Yusuf Al-Qaradhawi, Bagaimana Berinteraksi Dengan Peninggalan Ulama Salaf, terj. Ahrul Tsani Fathurrahman dan Muhtadi Abdul Munim, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2003), hlm. 87

[10] Alaiddin Koto, Ilmu Ushul Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2011), hlm. 134

[11] A. Hanafie, Ushul Fiqh, (Jakarta: 1963), hlm 159.